Sarat Makna Spiritualitas dan Sosial, Keraton Kaprabonan Cirebon Lestarikan Tradisi Rebo Wekasan

Rebo Wekasan di Keraton Keprabon
Pangeran Handi beserta kerabat Keraton Kaprabonan menebarkan uang logam ke arah warga dan anak-anak yang berkumpul di halaman keraton, Rabu (12/8/2026).
0 Komentar

CIREBON – Keraton Kaprabonan Cirebon kembali menggelar tradisi tahunan Rebo Wekasan atau Saparan pada Rabu terakhir di bulan Safar (12/8/2026). Ritual adat yang dipusatkan di Kompleks Keraton Kaprabonan, Kota Cirebon, ini diisi dengan serangkaian kegiatan religius dan budaya, mulai dari sholat sunnah Lidafil Bala (doa tolak bala), pembagian kuliner khas kue apem, hingga tradisi sedekah curak (sebar uang receh) bagi masyarakat sekitar.

Rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan sholat sunnah dua rakaat Lidafil Bala dan doa bersama. Ritual munajat ini dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar spiritual umat Islam untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala marabahaya, musibah, dan bencana, sekaligus memohon keselamatan serta keberkahan hidup bagi seluruh masyarakat.

Sultan Kaprabonan X, Pangeran Handi Raja Kaprabonan, S.E., M.M., menegaskan bahwa tradisi Saparan yang rutin digelar setiap tahun ini bukan sekadar seremoni kebudayaan, melainkan medium perekat hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dan sesama.

Baca Juga:PAMDI Kabupaten Cirebon Gelar Festival Dangdut Indonesia ke-3 untuk Gali Talenta MudaUnjuk Kebolehan Olah Vokal, Lomba Karaoke Pegawai Semarakkan Peringatan HUT ke-81 RI di Kecamatan Babakan

“Rangkaian Rebo Wekasan di bulan Safar ini merupakan wujud doa bersama kita kepada Allah SWT. Kami berharap seluruh masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, keberkahan, serta dijauhkan dari segala bentuk musibah. Ini adalah momentum untuk saling memaafkan, berikhtiar, dan berbagi rezeki,” ujar Pangeran Handi di sela-sela kegiatan.

Selain ritual doa, daya tarik utama perayaan Rebo Wekasan terletak pada hidangan khas kue apem yang disajikan lengkap dengan siraman kuah gula merah manis (kinca). Dalam lanskap budaya Cirebon, sajian ini memiliki filosofi mendalam. Kata apem diserap dari bahasa Arab ‘Afwun’ yang bermakna ampunan atau permohonan maaf atas segala khilaf dan dosa. Sementara itu, cita rasa manis dari kuah kinca menyimbolkan harapan akan kehidupan yang harmonis, rukun, dan dipenuhi manisnya persaudaraan setelah saling memaafkan.

Suasana semakin hangat ketika acara memasuki puncak tradisi curak. Pangeran Handi beserta kerabat Keraton Kaprabonan menebarkan uang logam ke arah warga dan anak-anak yang berkumpul di halaman keraton. Riuh keceriaan warga saat berebut koin menjadi simbol nyata kepedulian sosial (pembagian rezeki) serta semangat gotong royong yang telah mengakar selama ratusan tahun.

0 Komentar