Program MBG Libur Jeda Sekolah, Harga Sembako di Cirebon Merosot Tajam Akibat Stok Melimpah

Harga sembako turun saat libur sekolah dan MBG di Cirebon
Suasana pagi di Pasar Tradisional Babakan, Kabupaten Cirebon, Kamis (9/7/2026).
0 Komentar

CIREBON — Penghentian sementara atau jeda operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah membawa dampak signifikan terhadap rantai pasok pangan domestik. Di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Cirebon, harga berbagai komoditas sembilan bahan pokok (sembako) dilaporkan mengalami penurunan drastis akibat melimpahnya pasokan di tingkat pedagang.

Kondisi ini terjadi lantaran serapan pasokan pangan makro yang biasanya dialokasikan secara massal untuk kebutuhan dapur umum program MBG kini dialihkan sepenuhnya ke pasar ritel konvensional. Imbasnya, hukum pasar berlaku secara langsung: ketika ketersediaan barang melonjak sementara tingkat permintaan bergerak konstan, harga jual komoditas pokok di pasar langsung merosot tajam.

Berdasarkan pantauan di lapangan, penurunan harga yang cukup signifikan melanda sejumlah komoditas sensitif, mulai dari sektor protein hewani seperti daging ayam ras dan telur, hingga sektor bumbu dapur komparatif seperti cabai merah, cabai rawit, serta bawang merah. Penurunan harga ini secara langsung memberikan ruang longgar bagi daya beli masyarakat.

Baca Juga:Dari Penjaga Gawang Sampai Penyerang, Sebelas Pemain Persib Masuk Skuad Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026Pemkab Cirebon Kucurkan Rp475 Juta untuk Pembenahan Alun-Alun Pataraksa, Proses Lelang Rampung Agustus

Agus Setiawan(40), salah seorang Pedagang bahan pokok asal Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, mengaku sangat merasakan dampak positif dari fluktuasi harga tersebut. Dirinya mengungkapkan bahwa biaya belanja harian pasca-liburnya program MBG berkurang cukup signifikan dibandingkan dengan beberapa pekan sebelumnya.

“Semenjak anak-anak sekolah mulai libur dan program makanan gratis diistirahatkan, harga-harga di pasar tradisional berangsur turun. Kami sebagai masyarakat kecil tentu merasa sangat terbantu dan lebih leluasa memenuhi kebutuhan dapur karena komoditas utama tidak lagi mahal,” ujar Agus salah satu pedagang di pasar Babakan, Kamis (9/7/2026).

Sejumlah pedagang di pasar tradisional juga membenarkan adanya penurunan harga secara berantai ini. Menurut para pelaku pasar, saat program MBG aktif berjalan, sebagian besar pasokan strategis berskala besar langsung diserap dari produsen utama untuk menyuplai kebutuhan pangan massal, sehingga menyisakan stok yang terbatas untuk pasar umum dan memicu lonjakan harga.

Kini, dengan liburnya program tersebut, seluruh rantai distribusi dari peternak dan petani kembali mengalir penuh ke pasar-pasar tradisional. Komoditas telur ayam yang sebelumnya sempat menembus angka Rp32.000 per kilogram kini stabil di kisaran Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Penurunan serupa terjadi pada daging ayam ras serta aneka cabai yang merosot tajam dari harga puncak sebelumnya.

0 Komentar