CIREBON — Kabupaten Cirebon kembali meneguhkan posisinya sebagai salah satu episentrum peradaban dan pusat kebudayaan penting di Jawa Barat. Sebanyak 15 karya budaya asli dari daerah berjuluk Kota Udang ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2026.
​Penetapan ini menjadi angin segar sekaligus payung hukum dalam memberikan pengakuan dan perlindungan bagi berbagai tradisi, kesenian, bahasa, hingga kuliner khas yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat Cirebon selama ratusan tahun. Deretan kekayaan intelektual komunal yang lolos kurasi ini mencerminkan betapa luhur dan kuatnya identitas kultural masyarakat Cirebon di tengah gempuran zaman.
​Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Fajar Sutresno, menegaskan bahwa pencapaian ini membawa makna yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan administratif di atas kertas. Pengakuan ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi negara dan provinsi terhadap jejak sejarah serta warisan leluhur yang dijaga dengan darah dan keringat oleh masyarakat Cirebon secara turun-temurun.
Baca Juga:Roy Suryo dan dr Tifa Meluncur ke Meja Hijau Kuasa Hukum Tegaskan Kesiapan Jokowi Perlihatkan IjazahAkselerasi Infrastruktur, DPUTR Kabupaten Cirebon Siap Bedah 91 Titik Jalan Mulai Akhir Juni
​”Budaya yang kita miliki merupakan aset berharga yang harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Penetapan status WBTb ini menjadi bentuk pengakuan mutlak sekaligus perlindungan hukum terhadap kekayaan budaya Kabupaten Cirebon,” ujar Fajar dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
​Titik Temu Akulturasi Global dan Lokal​Lebih lanjut, Fajar memaparkan bahwa Kabupaten Cirebon memiliki lanskap karakter budaya yang sangat unik dan langka. Letak geografisnya yang strategis di pesisir utara Jawa membuat wilayah ini berfungsi sebagai pelabuhan utama dan titik pertemuan berbagai peradaban besar dunia sejak masa lampau.
​Akulturasi harmonis antara kebudayaan Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab, hingga corak Nusantara lainnya melahirkan identitas baru yang sangat khas. Jejak akulturasi mesra tersebut hingga kini masih membumi dan dapat ditemukan dengan mudah dalam bahasa sehari-hari, ritus tradisi, seni pertunjukan, hingga cita rasa kuliner lokal masyarakat setempat.
​Salah satu yang mendapatkan pengakuan legal adalah Basa Cerbon. Bahasa ini dinilai bukan sekadar alat komunikasi biasa, melainkan instrumen utama pemelihara nilai-nilai filosofi daerah. Di sektor kerajinan, Batik Trusmi dengan motif ikonik Mega Mendung-nya yang legendaris juga resmi menyandang status WBTb, memperkuat eksistensinya yang telah lama melanglang buana hingga ke kancah internasional.
