CIREBON — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cirebon bergerak cepat dalam merespons aspirasi pelestarian sejarah daerah. Bersama kalangan budayawan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), legislatif menggelar audiensi khusus guna membedah dan memperkuat dasar historis penetapan Hari Jadi Kabupaten Cirebon yang selama ini diperingati setiap tanggal 2 April.
Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut menjadi ruang diskusi mendalam bagi para pemangku kebijakan dan pemerhati sejarah. Para budayawan lokal yang hadir menekankan pentingnya penguatan legitimasi tanggal bersejarah tersebut. Mereka menilai, momentum hari jadi tidak boleh sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan harus terus diuji dan diperkokoh melalui kajian akademis serta penelitian sejarah yang komprehensif agar memiliki ikatan emosional dan legitimasi yang kuat di tengah masyarakat.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Raden Hasan Basori, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa pemilihan tanggal 2 April 1482 bukanlah tanpa alasan. Tanggal tersebut merujuk pada momentum krusial dalam lini masa sejarah Cirebon, yaitu saat dihentikannya pengiriman upeti dan hasil bumi dari Cirebon kepada Kerajaan Pajajaran. Peristiwa heroik ini dipandang sebagai tonggak awal berdirinya Cirebon sebagai wilayah yang berdaulat dan mandiri.
Baca Juga:Tokoh Buntet Pesantren, KH Adib Rofiuddin Izza Tutup Usia : Sejumlah Tokoh Nasional Lepas Jenazah Ke CirebonWagub Erwan Dukung Kuliner Lokal Hadir di Mal Modern
“Penetapan hari lahir Kabupaten Cirebon yang kita peringati sekarang sebenarnya telah melalui proses panjang, termasuk kajian akademis yang mendalam hingga akhirnya dituangkan dalam peraturan daerah (Perda). Jadi, dari sudut pandang hukum dan historis awal, dasar penetapannya sudah memiliki landasan yang sangat jelas,” ujar pria yang akrab disapa RHB ini kepada Radar Cirebon, Jumat (29/5).
Kolaborasi Lintas Sektor demi Warisan Generasi Mendatang
Meski regulasi telah menetapkan tanggal tersebut, RHB menegaskan bahwa DPRD sangat terbuka dan menyambut baik usulan para budayawan untuk memperdalam riset sejarah. Ke depan, pihaknya mendorong keterlibatan aktif dari kalangan akademisi, sejarawan, dan para ahli untuk meneliti lebih jauh dokumen-dokumen kuno terkait Cirebon. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkaya literatur dan referensi sejarah daerah.
Lebih lanjut, politisi senior ini menambahkan bahwa upaya pelurusan dan penguatan sejarah memiliki esensi yang jauh lebih besar daripada perdebatan angka dan tanggal. Hal ini berkaitan erat dengan penyelamatan aset budaya non-bendawi yang menjadi fondasi karakter masyarakat lokal.
