Saat massa mengepung rumah tersebut, pihak keluarga mengklarifikasi bahwa Slamet sudah diusir dari rumah karena dinilai telah mencoreng dan mempermalukan nama baik keluarga besar. Kendati demikian, alibi pengusiran tersebut dinilai janggal dan dicurigai sebagai skenario belaka untuk meloloskan Slamet dari jerat tanggung jawab.
“Pihak keluarga bilang Slamet sudah diusir. Namun bagi kami ini sangat janggal karena waktu pengusirannya bertepatan persis dengan hari perjanjian temu dengan nasabah tanggal 30 Mei ini. Kami curiga ini sudah diskenariokan secara rapi untuk mengelabui kami semua,” ujar salah satu kandidat pekerja migran asal Sukabumi yang enggan disebutkan namanya dengan nada curiga.
Sejumlah pihak mempertanyakan nasib para kandidat yang telah menunggu kesempatan bekerja ke luar negeri namun hingga kini belum mendapatkan kejelasan. Mereka menilai para kandidat kehilangan waktu dan peluang untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Kekecewaan pun semakin mengemuka karena sosok yang menjadi sorotan diketahui memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan pernah menempuh studi hingga jenjang S2 di luar negeri, sehingga menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat terkait dugaan persoalan yang terjadi.
Baca Juga:Pengawasan Lemah, Penerapan Perda Kawasan Tanpa Rokok di Pemkab Cirebon Belum OptimalDokumen 1971 Bocor, Konflik Agraria Tanah Pangonan Cirebon Timur Kembali Memanas
Melihat situasi yang kian memanas, Pemerintah Desa (Pemdes) Sumber Kidul langsung turun tangan melakukan pendampingan di lokasi demi mencegah terjadinya tindakan anarkis. Melalui pesan singkat WhatsApp saat dihubungi Jabar Publisher, Kuwu (Kepala Desa) Sumber Kidul, Wargono, mengaku awalnya tidak mengetahui secara detail pokok persoalan yang mendera LPK swasta tersebut. Namun, demi kondusivitas wilayah, pihaknya menyatakan siap memfasilitasi ruang mediasi.
“Secara kelembagaan kami di Pemdes pada awalnya tidak mengetahui adanya polemik internal ini. Kendati demikian, kami siap mengakomodir dan membantu proses mediasi antara para nasabah dan terduga saudara S, agar persoalan ini bisa segera menemukan titik temu yang adil bagi semua pihak,” tegas Kuwu Wargono saat dikonfirmasi.
Di sisi lain, harapan sempat mencuat ketika pihak keluarga mengonfirmasi bahwa Slamet sebenarnya berjanji akan tetap pulang hari ini untuk menemui para nasabah dan menyelesaikan kewajibannya. Memegang teguh janji tersebut, para korban sepakat mengambil langkah tegas untuk bertahan dan menduduki area sekitar rumah keluarga Slamet di Desa Sumber Kidul hingga yang bersangkutan menampakkan diri.
