BANDUNG — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti tajam isu kesejahteraan pegawai, disparitas sistem pengupahan, hingga skema kredit PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mendekati masa pensiun.
Dalam arahannya pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Bank BJB, Dedi mendesak adanya reformasi kebijakan yang lebih berpihak kepada para ASN senior. Salah satu poin krusial yang ia tekankan adalah pemberian insentif khusus berupa penurunan suku bunga pinjaman bagi ASN yang segera memasuki masa purnabakti sebagai bentuk apresiasi atas loyalitas mereka selama puluhan tahun.
“Misalnya, seorang ASN selama 30 tahun menjadi peminjam setia dan rekam jejaknya bersih, tidak pernah terlambat membayar cicilan. Ketika menjelang pensiun, katakanlah sisa tiga atau empat tahun masa kerja, bisa tidak suku bunganya diturunkan sebagai bentuk apresiasi?” ujar Dedi Mulyadi saat memberikan keterangan, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga:Anggaran Pakan Habis Sejak Maret, Lelang 41 Ekor Sapi Pemkab Cirebon Senilai Ratusan Juta Rupiah Gagal TotalSikat Kejahatan Jalanan hingga Asusila, Polresta Cirebon Gulung 14 Tersangka dari 11 Kasus
Menurut Dedi, kebijakan tersebut sangat mendesak untuk diimplementasikan karena pendapatan ASN cenderung mengalami penurunan signifikan menjelang masa pensiun. Padahal, di sisi lain, mereka harus tetap mempersiapkan stabilitas finansial dan pemenuhan kebutuhan hidup di masa tua.
Kritik Ketimpangan Jabatan Struktural vs Pekerja Lapangan
Selain persoalan kredit perbankan, pria yang akrab disapa KDM ini juga melontarkan kritik keras terkait ketimpangan sistem pengupahan di Indonesia yang dinilai terlalu berorientasi pada jabatan struktural ketimbang pekerja lapangan. Kebijakan ini dinilai memicu demotivasi bagi pegawai yang menjadi ujung tombak operasional.
“Pegawai marketing yang setiap hari kehujanan dan kepanasan di lapangan menjadi kurang diminati. Hal itu terjadi karena semua orang berlomba-lomba mengejar jabatan struktural yang bebannya dinilai lebih ringan, namun menawarkan gaji yang jauh lebih besar,” tutur Dedi membeberkan realita di lapangan.
Ia memperingatkan bahwa disparitas pendapatan yang terlalu mencolok ini berdampak buruk pada penurunan produktivitas, baik di lingkungan birokrasi pemerintahan maupun sektor korporasi non-birokrasi.
Tantangan Menuju Bank Modern
Sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) Bank BJB, Dedi meminta manajemen bank bjb untuk berani merombak sistem penghargaan (reward) agar berbasis pada kinerja nyata dan produktivitas, termasuk mengambil langkah ekstrem dengan memangkas disparitas penghasilan di internal perusahaan.
