Anggaran Pakan Habis Sejak Maret, Lelang 41 Ekor Sapi Pemkab Cirebon Senilai Ratusan Juta Rupiah Gagal Total

Sapi milik Pemda Cirebon gagal lelang karena kondisi
Gagalnya proyek investasi peternakan ini ditengarai akibat kondisi fisik puluhan komoditas ternak tersebut yang kurus kering dan memprihatinkan, sehingga kehilangan nilai tawar di mata para investor maupun pelaku usaha jagal.
0 Komentar

CIREBON — Proses lelang aset daerah berupa 41 ekor sapi milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon berakhir tragis tanpa satu pun peminat. Gagalnya proyek investasi peternakan ini ditengarai akibat kondisi fisik puluhan komoditas ternak tersebut yang kurus kering dan memprihatinkan, sehingga kehilangan nilai tawar di mata para investor maupun pelaku usaha jagal.

Menanggapi polemik yang menggelinding di ruang publik, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon, H. Hendra Nirmala, S.Sos., M.Si., angkat bicara dan tidak dapat menyembunyikan rasa prihatinnya. Menurut Hendra, performa visual dan kesehatan ternak yang merosot tajam menjadi batu sandungan utama dalam proses lelang yang diselenggarakan oleh pemda setempat.

Hendra membeberkan fakta mengejutkan mengenai mandeknya pemeliharaan aset hidup ini. Berdasarkan penelusuran internal, dinas terkait kehabisan napas dalam hal pendanaan operasional pemeliharaan, di mana alokasi dana pakan telah ludes sebelum pertengahan tahun berjalan.

Baca Juga:Sikat Kejahatan Jalanan hingga Asusila, Polresta Cirebon Gulung 14 Tersangka dari 11 KasusSadar Fungsi Fasilitas Umum, Separuh Bangunan Liar di Jalur Losari Cirebon Mulai Dibongkar Mandiri

“Mengenai penyebab mengapa kondisi sapi-sapi tersebut menjadi sangat kurus, ranah teknisnya berada sepenuhnya di dinas terkait. Di sana sebenarnya sudah dialokasikan anggaran operasional untuk pakan. Namun, berdasarkan informasi yang kami terima, anggaran tersebut ternyata sudah habis total sejak bulan Maret lalu,” ujar Hendra saat memberikan keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan bahwa kendala tidak lakunya puluhan sapi ini bersifat akumulatif. Selain karena performa biologis yang buruk akibat malanutrisi sejak pasokan pakan terhenti, harga limit yang dipatok berdasarkan penilaian (appraisal) independen dinilai terlalu tinggi dan tidak rasional jika disandingkan dengan kondisi riil komoditas di lapangan saat ini.

“Berdasarkan laporan formal yang kami terima dari Kepala Dinas Pertanian, sapi-sapi tersebut sama sekali tidak dilirik oleh calon pembeli lantaran postur fisiknya yang kurus dan dinilai tidak ideal untuk dipasarkan. Situasi ini diperparah dengan nilai hasil appraisal yang terlampau tinggi, sehingga menciptakan kesenjangan harga yang membuat para peminat mundur teratur,” urai Hendra secara mendalam.

Guna mencegah kerugian yang kian membengkak dan menguras kas daerah, Pemkab Cirebon kini bergerak cepat menyusun langkah kontingensi. Evaluasi menyeluruh diperintahkan langsung kepada Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon untuk merombak tata kelola manajemen pakan dan perawatan hewan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

0 Komentar