CIREBON – Kabupaten Cirebon kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lumbung utama penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di tingkat nasional. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) melaporkan, sepanjang triwulan pertama tahun 2026—periode Januari hingga Maret—sebanyak 2.448 warga Kabupaten Cirebon telah bertolak ke luar negeri untuk mengadu nasib. Tingginya angka mobilitas tenaga kerja ini kian mempertegas tradisi merantau yang masih mengakar kuat di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat.
​Berdasarkan data resmi dalam laporan bulanan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/BP2MI, grafik keberangkatan warga Cirebon fluktuatif namun tetap tinggi. Tercatat pada Januari sebanyak 866 orang berangkat ke luar negeri, disusul penurunan tipis pada Februari dengan 701 orang, dan kembali melonjak pada Maret menjadi 881 orang.
​Secara akumulatif nasional, total penempatan PMI pada kuartal pertama 2026 menembus 65.813 orang. Angka ini menempatkan Kabupaten Cirebon berada di peringkat keempat nasional sebagai daerah asal pengirim PMI terbanyak. Posisi Cirebon berada tepat di bawah Kabupaten Indramayu yang memimpin dengan 4.096 PMI, disusul Lombok Timur sebanyak 3.221 PMI, dan Cilacap dengan 2.694 PMI.
Baca Juga:Bangun Kesadaran Politik Sejak Dini, Anggota DPRD Jabar Gencarkan Pendidikan Demokrasi untuk Pelajar CirebonBukan Sekadar Pembangkit Listrik, Cirebon Power Sukses Dorong Kesejahteraan dan Vokasi Warga Cirebon
​Sektor Domestik dan Perawatan Tetap Mendominasi​Di ranah global, mayoritas pahlawan devisa ini terserap pada sektor-sektor domestik, perkebunan, dan industri perawatan (caregiver). Data BP2MI mengonfirmasi bahwa posisi caregiver (pengasuh/perawat) menjadi profesi yang paling banyak diminati dengan serapan 15.056 orang secara nasional. Formasi lain yang padat peminat meliputi pekerja perkebunan (plantation worker) sebanyak 7.225 orang, asisten rumah tangga (house maid) 5.936 orang, operator produksi (operator production) 3.832 orang, serta pekerja industri (industry worker) sebanyak 3.430 orang.
​Menanggapi fenomena ini, Bupati Cirebon, Imron Rosyadi, angkat bicara. Ia mengakui bahwa derasnya arus migrasi tenaga kerja asal wilayahnya dipicu oleh faktor klasik, yakni himpitan ekonomi dan masih terbatasnya ketersediaan lapangan kerja yang mapan di tingkat lokal.
​”Fenomena tingginya angka pekerja migran ini terus menjadi perhatian serius kami di jajaran pemerintah daerah. Realitas di lapangan menunjukkan, banyak warga yang secara sadar memilih bekerja ke luar negeri karena potensi penghasilan di sana dinilai jauh lebih menjanjikan dan kompetitif dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia di daerah sendiri,” ujar Imron saat dikonfirmasi pada Rabu (20/5/2026).
