Basi para kandidat yang berhasil menembus seluruh tahapan seleksi ketat tersebut, negara hadir memberikan jaminan berupa fasilitas kedinasan. Peserta akan diasramakan untuk mengikuti pelatihan intensif secara tatap muka (offline) selama tiga bulan penuh di Balai Latihan Kerja (BLK). Seluruh biaya pelaksanaan seleksi ditanggung sepenuhnya oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui pos anggaran Disnaker Kabupaten Cirebon, sehingga peserta tidak dibebankan pungutan biaya sepeser pun.
Sementara itu, Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, memaparkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap program ini merefleksikan tingginya kebutuhan akan lapangan kerja bermutu. Pada pelaksanaan tahun anggaran 2025 lalu, Disnaker mencatat lonjakan pendaftar yang luar biasa, mencapai lebih dari 300 pelamar dari kuota awal yang disediakan sebanyak 130 kursi.
Dari seleksi ketat tahun lalu, sebanyak 69 peserta berhasil melaju ke tahapan pelatihan. Kendati demikian, dinamika di lapangan menunjukkan terdapat 20 peserta yang terpaksa mengundurkan diri akibat kendala personal dan kondisi kesehatan yang tidak memenuhi standar kelayakan kerja internasional. Kendati ada penyusutan, realisasi penyerapan tenaga kerja program ini terhitung sangat sukses dan berimbas positif pada peningkatan devisa daerah.
Baca Juga:Bentuk Disiplin dan Mental Tangguh, 150 Siswa Jawa Barat Ikuti Pendidikan Karakter di Mako TNI CilandakManfaatkan Program Makan Bergizi Gratis, Sindikat Penipuan SPPG Fiktif Rp1,9 Miliar Digulung Polda Jabar
“Hingga hari ini, sebanyak 48 pekerja migran asal Kabupaten Cirebon telah resmi ditempatkan dan aktif bekerja di berbagai sektor industri di Jepang. Sisanya saat ini sedang dalam fase menunggu jadwal wawancara akhir pemberangkatan. Dengan penghasilan minimal Rp17 juta per bulan dan masa kontrak minimal tiga tahun, potensi remitansi atau aliran dana segar yang masuk kembali ke Kabupaten Cirebon diperkirakan menembus angka Rp29,3 miliar. Ini adalah suntikan modal ekonomi yang sangat masif bagi perputaran ekonomi di tingkat desa,” pungkas Novi Hendrianto optimistis. (rif/dbs)
