Cirebon sebagai Simbol Pluralisme
Dedi juga memuji karakteristik masyarakat Cirebon yang dinilai sangat terbuka terhadap perbedaan. Ia menyebut Cirebon sebagai representasi “miniatur pluralisme Indonesia” yang berhasil memadukan nilai agama, budaya, dan sejarah secara harmonis.
“Wilayah yang sangat terbuka itu adalah Cirebon. Daerah ini mengajarkan kita tentang Islam inklusif, di mana tradisi dan nilai religi bisa hidup berdampingan tanpa sekat,” tambahnya.
Komitmen Penataan Kawasan Keraton
Menutup rangkaian acara, Gubernur mengungkapkan rencana ambisius untuk menata kawasan keraton di Cirebon, meliputi Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, hingga Kaprabonan. Ia menginginkan kawasan-kawasan tersebut kembali tertata rapi dan bersih layaknya kejayaan masa lalu guna memperkuat daya tarik wisata sejarah.
Baca Juga:Tekan Angka Kemiskinan, Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon Matangkan Konsep ‘Rumah Terintegrasi’Sistem Rekrutmen Online Disnaker Cirebon Disorot, Ketua DPRD Desak Evaluasi Total Demi Transparansi
“Kita tidak perlu lagi hanya terpaku pada anggaran provinsi. Di luar itu, banyak pihak yang memiliki kepedulian tinggi dan ingin berpartisipasi menata kembali warisan sejarah kita agar lebih menarik dan bermartabat,” pungkasnya. (rif/dbs)
