“Pikiran kita masih terpaku pada sektor formal, akhirnya terjadi penumpukan pelamar di pabrik dan di birokrasi, mulai dari honorer sampai PPPK. Padahal, ruang kerja di luar sana sangat terbuka lebar bagi mereka yang mau berinovasi,” tambahnya.
Vokasi Bukan Sekadar Pabrik
Lebih lanjut, Kang Dedi mendorong agar pendidikan vokasi tidak hanya mencetak tenaga kerja untuk kawasan industri, tetapi juga mampu membangkitkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal yang mulai langka. Ia mencontohkan sektor-sektor spesifik seperti industri anyaman tradisional, kuliner khas daerah, hingga pengelolaan perkebunan teh dan kopi yang nilai ekonominya sangat tinggi namun kekurangan tenaga ahli.
“Saat ini, pengrajin anyaman bilik semakin langka padahal permintaannya tinggi. Ahli masak makanan tradisi juga berkurang, bahkan pemetik teh pun semakin sedikit. Padahal, jika dikelola dengan sentuhan vokasi dan inovasi, sektor-sektor ini memiliki nilai jual yang luar biasa,” jelasnya.
Baca Juga:Perkuat Orkestrasi Birokrasi, Wali Kota Cirebon Resmi Lantik Edi Siswoyo sebagai Pj SekdaKemenag Kabupaten Cirebon Ajukan Hibah 7 Titik Lahan Pemkab demi Tertib Aset dan Relokasi Strategis
Melalui penguatan pendidikan vokasi yang terintegrasi, pemerintah berharap lulusan di Indonesia tidak hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi bertransformasi menjadi pencipta lapangan kerja (job creator). Fokus ke depan adalah memastikan kebijakan link and match berjalan nyata, di mana ruang inovasi dibuka seluas-luasnya untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat. (rif/dbs)
