PURWAKARTA – Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat mengambil langkah drastis menyusul insiden pelecehan profesi guru yang dilakukan oleh sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, secara resmi menginstruksikan seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Disdik Jabar untuk melarang total penggunaan ponsel pintar (handphone) selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung.
Kebijakan ini merupakan respons langsung terhadap aksi tidak terpuji para siswa kelas XI IPS yang mengolok-olok seorang guru perempuan bernama Atum pada Kamis (16/4/2026). Aksi provokatif tersebut viral di media sosial setelah para siswa merekam tindakan mereka—termasuk mengacungkan jari tengah—tepat setelah jam pelajaran pengolahan makanan usai.
Digitalisasi dan Degradasi Karakter
Dalam kunjungannya saat menjadi pembina upacara di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026), Purwanto menegaskan bahwa penggunaan teknologi digital yang tidak terkontrol telah menjadi pemicu utama pergeseran karakter siswa. Ia memerintahkan agar ponsel seluruh siswa dikumpulkan sebelum kelas dimulai guna menjaga konsentrasi dan mencegah penyalahgunaan teknologi untuk tindakan destruktif.
Baca Juga:Â 1,5 Juta Siswa SD Ikuti TKA Perdana Serentak Hari IniDPRD Kota Cirebon Kawal Nasib PPPK Paruh Waktu, Soroti Gaji Minim dan Kepastian Kontrak
“Anak-anak hari ini tidak hanya dididik oleh guru di ruang kelas, tetapi juga oleh hiruk-pikuk media sosial, gawai, pola asuh orang tua, hingga lingkungan. Apa yang terjadi saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan hasil dari akumulasi pengaruh tersebut,” ujar Purwanto di hadapan para siswa dan guru.
Ia memperingatkan bahwa media sosial yang luput dari pengawasan orang dewasa dapat mendorong remaja melakukan pelanggaran norma demi mengejar popularitas konten. “Tanpa pengawasan ketat, siswa bisa saja bermain media sosial saat guru mengajar, bahkan melakukan siaran langsung (live). Ini adalah ancaman nyata bagi marwah pendidikan,” tambahnya.
Fenomena Eksistensialisme Digital
Menanggapi fenomena ini, psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menyoroti adanya aspek “eksistensialisme digital” yang menjangkiti generasi muda. Menurutnya, tindakan para siswa tersebut bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan upaya mencari validasi di dunia maya.
Secara neuropsikologis, Danti menjelaskan bahwa bagian otak yang berfungsi mengontrol impuls pada remaja memang belum berkembang sempurna, sementara pusat emosinya sedang berada pada puncak aktivitas. Hal ini diperparah dengan audience effect yang muncul akibat kehadiran kamera.
