CIREBON — Gelombang digitalisasi dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang kian bergeser ke media siber ternyata memicu dampak berantai hingga ke sektor ekonomi mikro. Salah satu dampaknya dirasakan langsung oleh para pedagang jajanan tradisional di wilayah Cirebon, Jawa Barat, yang kini mulai kesulitan memperoleh koran bekas sebagai bahan pembungkus makanan.
Penurunan drastis sirkulasi media cetak harian dalam beberapa tahun terakhir membuat pasokan koran bekas dari pengepul semakin langka. Padahal, sejak era 1990-an hingga 2000-an, koran bekas menjadi komoditas vital yang fleksibel dan terjangkau bagi pedagang kecil untuk membungkus berbagai produk, mulai dari bumbu dapur, sayur-mayur, hingga jajanan pasar.
Suria, seorang pedagang jajanan tradisional keliling di Cirebon, menceritakan kendala operasional yang dihadapinya akibat kelangkaan bahan kemasan legendaris ini. Ia mengungkapkan bahwa kini keberadaan koran bekas lokal makin tidak menentu di pasaran.
Baca Juga:Gempur Pungli Rekrutmen, Pemprov Jabar Resmi Buka Kanal Aduan Calo Tenaga Kerja via SapawargaPerkuat Kemanunggalan TNI dan Rakyat, Jajaran Yon TP 337/Sutajaya Ziarahi Makam Pangeran Sutajaya di Gebang
“Dahulu langganan penjual keliling biasa membawakan koran bekas yang sudah digulung rapi seharga Rp2.000 per gulung dan falls isinya lumayan banyak, sekitar 20 lembar. Namun belakangan, kalaupun ada, fisik korannya bertuliskan bahasa asing. Koran lokal sudah sangat jarang,” ujar Suria saat ditemui pada Sabtu (10/10/2026).
Kondisi tersebut memaksa Suria dan sejumlah pedagang mikro lainnya memutar otak guna menekan biaya pembungkus agar marjin usaha tetap terjaga. Menggunakan kertas minyak cokelat khusus kemasan primer makanan dinilai kurang ekonomis bagi skala usaha pedagang kecil keliling.
Sebagai solusinya, para pedagang terpaksa berburu kertas bekas campuran kiloan yang dijual pengepul di Pasar Plered, Kabupaten Cirebon. Kertas campuran ini dipasarkan seharga Rp8.000 per kilogram dengan isi materi kertas yang amat beragam.
“Karena koran lokal sudah hampir tidak ada dan kertas cokelat mahal, solusi paling masuk akal ya beli kertas campuran kiloan di Pasar Plered. Harganya Rp8.000 per kilogram. Isinya bermacam-macam, ada fotokopi Kartu Keluarga (KK), ijazah bekas, sampai lembaran soal ujian. Yang penting bisa dipotong rapi untuk bungkus kacang dan jajanan agar ongkos jualan tetap murah,” tuturnya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana disrupsi teknologi di industri media cetak secara tak terduga mengubah mata rantai kemasan pada sektor ekonomi informal. Di satu sisi, adaptasi mengandalkan limbah kertas dokumen kiloan menjadi jawaban atas melambungnya biaya kemasan. Namun di sisi lain, realitas ini menegaskan betapa efisiensi biaya tetap menjadi faktor penentu utama bagi kelangsungan hidup para pelaku pedagang kecil di tengah gempuran era digital. (red/dbs)
