KABUPATEN CIREBON — Pertumbuhan industri di Kabupaten Cirebon diiringi catatan kritis dari kalangan legislatif. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cirebon menyoroti masih banyaknya warga lokal, khususnya yang berpendidikan rendah, mengalami kesulitan dalam menyerap peluang kerja yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan baru.
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon, Nurholis, S.Pd.I., menyatakan bahwa ekspansi korporasi dan pertumbuhan jumlah perusahaan di daerah harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia mengingatkan agar masyarakat di sekitar kawasan industri tidak sekadar menjadi penonton di tengah masifnya perkembangan ekonomi.
“Masih ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan pendidikan dan keterampilan,” ujar Nurholis, Senin (31/8/2026).
Baca Juga:Ratusan Petani Tebu Cirebon Bergerak ke Jakarta, Tuntut Kenaikan HPP Gula Rp16.500 per KilogramKlarifikasi Pemerintah Desa Cigobang: Bangunan Koperasi Merah Putih Dipastikan Berdiri di Luar Area Pemakaman
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi adalah adanya kesenjangan antara kualifikasi yang dibutuhkan oleh industri dengan tingkat pendidikan serta keterampilan yang dimiliki sebagian warga lokal. Perusahaan pada umumnya menetapkan standar dan persyaratan tertentu bagi calon tenaga kerja, sementara sebagian masyarakat dengan pendidikan terbatas memiliki pilihan pekerjaan yang jauh lebih sempit.
“Jangan sampai industri berkembang, sementara masyarakat sekitar hanya menjadi penonton,” ucapnya.
Kondisi tersebut dinilai menciptakan jarak antara peluang kerja yang terbuka dengan kemampuan riil tenaga kerja di tingkat lokal. Oleh karena itu, DPRD Kabupaten Cirebon mendorong adanya langkah konkret dari berbagai pihak untuk memperkuat kapasitas keterampilan masyarakat agar dapat memenuhi standar kebutuhan dunia industri.
Salah satu alternatif yang menjadi perhatian Nurholis adalah program magang ke luar negeri yang menjadi bagian dari program pemerintah pusat. Menurutnya, program magang tidak semata-mata memberikan kesempatan kepada peserta untuk bekerja di negara lain. Lebih dari itu, peserta dapat memperoleh pengalaman yang berharga sebagai bekal ketika kembali ke daerah.
“Peserta bisa belajar keterampilan kerja sekaligus mengenal budaya dan etos kerja di negara tujuan,” ujarnya.
Keberhasilan program magang internasional sejatinya tidak cukup diukur hanya dari seberapa banyak peserta yang berhasil diberangkatkan ke luar negeri. Lebih dari itu, parameter utama kesuksesan program ini terletak pada esensi manfaat jangka panjang yang dibawa pulang oleh para peserta.
