Ratusan Petani Tebu Cirebon Bergerak ke Jakarta, Tuntut Kenaikan HPP Gula Rp16.500 per Kilogram

Aksi petani tebu ke Jakarta
Perwakilan petani tebu Cirebon, Mae Azhar saat diwawancara awak media, Senin (31/8/2026).
0 Komentar

CIREBON — Gelombang keresahan petani tebu di Kabupaten Cirebon akhirnya memuncak menjadi aksi nyata di jalanan. Sebanyak 300 petani tebu asal Cirebon bergerak menuju ibu kota untuk bergabung dalam aksi nasional di depan Istana Negara, Jakarta. Keberangkatan ini didorong oleh desakan kuat agar pemerintah segera merevisi dan menaikkan Harga Patokan Penjualan (HPP) gula petani menjadi Rp16.500 per kilogram, guna mengimbangi mengaktifkan biaya produksi yang kian menghambat.

Perwakilan petani tebu Cirebon, Mae Azhar, mengungkapkan bahwa aksi turun ke jalan ini terpaksa dilakukan karena para petani merasa terjepit oleh beban operasional budidaya yang terus meningkat setiap tahunnya.

Agenda aksi nasional para petani tebu ke Jakarta dilaksanakan pada Selasa, 1 September 2026. Setibanya di Jakarta, massa petani Cirebon berencana akan bergabung dengan petani tebu dari berbagai daerah lainnya. Menurut Azhar, jumlah massa secara keseluruhan diperkirakan mencapai 5.000 hingga 7.000 petani.

Baca Juga:Klarifikasi Pemerintah Desa Cigobang: Bangunan Koperasi Merah Putih Dipastikan Berdiri di Luar Area PemakamanBUMDes Festival Jabar 2026 di Kuningan, Sekda Jabar Soroti Potensi Ekonomi Waduk Darma

“Untuk nanti malam itu kita di angka 300 orang. Dari Pabrik Gula wilayah Sindanglaut 100, Karangsembung 100, dan Babakan 100, yang nantinya setiba di Jakarta kita bergabung dengan massa dari petani tebu di daerah lainnya” ujar Mae Azhar, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, Aksi ini berawal dari keresahan petani terkait biaya komponen mulai dari proses tebang-angkut hingga harga pupuk non-subsidi di lapangan sudah sangat mahal, sementara harga acuan di tingkat petani tidak sebanding dengan kenyataan pengeluaran tersebut.

“Petani tebu resah. Biaya menanam dan memanen terus naik. Sementara harga yang menjadi patokan petani masih jalan di tempat,” ujar Mae Azhar saat memberikan keterangan.

Selain persoalan biaya produksi yang membengkak, Azhar menyoroti faktor infrastruktur pabrik gula di wilayah Cirebon yang sebagian besar masih mengandalkan fasilitas peninggalan zaman kolonial Belanda. Kondisi mesin pabrik yang sudah tua tersebut berdampak langsung pada kinerja kinerja pabrik, sehingga kadar rendemen tebu petani cenderung rendah dan tidak pernah mengalami peningkatan berarti.

“Khususnya di Kabupaten Cirebon, itu menggunakan pabrik-pabrik yang sudah tua peninggalan zaman Belanda. Otomatis rendemennya juga tidak pernah naik,” kata Azhar.

0 Komentar