Musim Kemarau 2026: Kebakaran di Kabupaten Cirebon Melonjak Drastis, Damkar Kebanjiran Laporan Tiap Hari

Kebakaran sering terjadi di kab cirebon
​Kepala Disdamkarmat Kabupaten Cirebon, Dadang Suhendra M.Si., mengungkapkan bahwa sebagian besar pemicu musibah kebakaran tersebut bukan semata-mata faktor cuaca ekstrem, melainkan ulah serta kelalaian manusia (human error), Selasa (21/72026).
0 Komentar

CIREBON – Puncak musim kemarau tahun 2026 memicu lonjakan signifikan kasus kebakaran di wilayah Kabupaten Cirebon. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatkan (Disdamkarmat) Kabupaten Cirebon mencatat tren kenaikan yang cukup mengkhawatirkan, di mana petugas harus merespons panggilan darurat penanganan api hampir setiap hari.

​Berdasarkan data resmi Disdamkarmat Kabupaten Cirebon, sepanjang periode Januari hingga pertengahan Juli 2026, tercatat sudah terjadi sebanyak 125 kasus kebakaran. Angka tersebut meliputi 57 musibah kebakaran rumah permukiman, 37 kejadian kebakaran lahan terbuka, 10 pabrik, 9 bangunan toko, 9 fasilitas umum, serta 3 unit kendaraan roda empat.

​Frekuensi amukan si jago merah dirasakan makin memuncak sejak memasuki awal Juli 2026. Dalam kurun waktu satu hari, Markas Disdamkarmat kerap menerima empat hingga lima laporan peristiwa kebakaran dari masyarakat. Jumlah insiden harian ini melonjak tajam dibanding kondisi normal di luar musim kemarau.

Baca Juga:Fokus Pengobatan Jantung, Naniek S Deyang Mundur dari BGN: Presiden Prabowo Siapkan Jabatan BaruSinyal Penurunan Harga Pertamax dari Menteri ESDM

​Kepala Disdamkarmat Kabupaten Cirebon, Dadang Suhendra M.Si., mengungkapkan bahwa sebagian besar pemicu musibah kebakaran tersebut bukan semata-mata faktor cuaca ekstrem, melainkan ulah serta kelalaian manusia (human error).

​”Peningkatan kejadian memang mulai terasa sangat signifikan sejak awal Juli 2026. Dalam sehari petugas kerap menerima empat hingga lima laporan kebakaran, angka yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan situasi normal,” ujar Dadang Suhendra didampingi Kabid Kedaruratan, Eno Sudjana, Selasa (21/7/2026).

​Dadang menjelaskan, cuaca terik yang menyengat serta kondisi vegetasi yang mengering memang membuat api sangat mudah menjalar dengan cepat. Namun, pemicu utamanya rata-rata berawal dari kebiasaan buruk masyarakat yang kurang berhati-hati saat mengelola sampah.

​”Sebagian besar pemicunya bukan murni faktor alam. Banyak kasus diawali oleh tindakan warga yang membakar sampah lalu ditinggalkan begitu saja sebelum apinya benar-benar padam secara sempurna,” tegas Dadang.

​Guna mengantisipasi potensi insiden yang lebih luas, pihak Disdamkarmat telah memetakan wilayah-wilayah rawan serta mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari pembakaran sampah liar, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan di area lahan kering. (rif/dbs)

0 Komentar