Lebih lanjut, Enny tidak menampik bahwa realokasi dan kecukupan anggaran untuk penanganan tengkes di Kabupaten Cirebon saat ini masih jauh dari kata ideal jika dihadapkan pada total beban kasus yang ada. Namun, ia memastikan bahwa Program PMT yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan—yang terintegrasi dalam Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)—tetap berjalan stabil dan diproteksi dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat.
Ironisnya, tantangan justru muncul dari pos anggaran daerah. Pengurangan alokasi dana secara signifikan dialami oleh program-program penanganan yang bersumber dari APBD Kabupaten Cirebon, terutama yang dikanalisasi melalui Pagu Indikatif Kewilayahan (PIK) hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Penyusutan dana lokal ini secara langsung membatasi ruang gerak dan fleksibilitas pemerintah daerah dalam memperluas cakupan intervensi spesifik.
“Jika kita komparasikan secara objektif antara besaran anggaran yang tersedia saat ini dengan angka prevalensi stunting di Kabupaten Cirebon yang masih bertahan di angka 18 persen, maka secara matematis anggaran daerah kita memang masih sangat kurang,” tambah Enny secara terbuka.
Baca Juga:Anggaran Latsarmil Capai Triliunan Rupiah, Anggota DPR Dorong Efisiensi Pelatihan KopdesTerbukti Bersalah dalam Kasus Korupsi Chromebook, Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara
Di sisi lain, upaya penanggulangan dari hulu juga terus dipacu demi memotong potensi lahirnya bayi tengkes yang baru. Ketua Tim Kerja Gizi Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Cirebon, Musrifah, menjelaskan bahwa pihaknya telah mendesain program penanganan jangka panjang yang tidak hanya menyasar bayi, melainkan menggunakan pendekatan siklus hidup manusia (life-cycle approach).
Melalui pendekatan komprehensif tersebut, intervensi pencegahan dilakukan secara berjenjang dimulai dari kelompok remaja putri di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Para pelajar putri ini diwajibkan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara berkala guna mengantisipasi dampak buruk dari kekurangan sel darah merah.
“Langkah proaktif pemberian Tablet Tambah Darah bagi remaja putri ini bertujuan utama untuk memutus dan mencegah penyakit anemia sejak usia dini. Harapan jangka panjangnya adalah ketika mereka kelak memasuki usia pernikahan dan fase kehamilan, kondisi kecukupan gizi mereka sudah berada pada status yang optimal,” jelas Musrifah.
