Peta kepesertaan kompetisi tahun ini terbilang inklusif dan kompetitif. Seluruh talenta yang bertanding merupakan siswa-siswi pilihan yang berasal dari Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), serta satuan pendidikan sederajat lainnya. Seluruh peserta yang berlaga di tingkat provinsi ini merupakan juara-juara yang telah lolos seleksi ketat di tingkat kabupaten dan kota masing-masing.
Untuk menyaring pemenang yang benar-benar berkualitas, panitia menerapkan rangkaian tahapan kompetisi yang komprehensif. Dimulai dari sesi pengarahan teknis (technical meeting), para peserta kemudian harus melewati fase krusial di babak penyisihan, sebelum akhirnya bertarung sengit di babak semifinal dan final hingga penetapan juara mutlak.
Kompetisi ini juga melahirkan cerita inspiratif dari para pesertanya, salah satunya datang dari Adlin Shiddiq. Sebagai debutan dalam kompetisi debat formal, Adlin mengaku bahwa pengalaman berorganisasi di sekolah menjadi modal utama yang membakar rasa percaya dirinya untuk ikut berkompetisi.
Baca Juga:Warga Cirebon Keluhkan Jalan Rusak dan Irigasi, Anggota DPRD Janji Kawal AspirasiPolresta Cirebon Musnahkan Ribuan Botol Miras dan Knalpot Brong Senilai Rp1,1 Miliar
“Ini merupakan pengalaman pertama saya mengikuti lomba debat secara formal. Ketertarikan ini tumbuh karena saya memiliki bekal pengalaman dari organisasi sekolah, seperti OSIS. Melalui aktivitas organisasi tersebut, saya menyadari adanya potensi diri dalam membangun argumen yang solid. Saya akhirnya menemukan bahwa esensi dari seni berdebat ini ternyata sangat aplikatif dan berguna dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Adlin penuh optimisme. (rls/hms)
