CIREBON — Pabrik Gula (PG) Tersana Baru yang berlokasi di Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, kembali menggelar tradisi selamatan giling pada Senin (25/5/2026). Ritual tahunan ini dilakukan sebagai penanda akan dimulainya musim tebang dan giling tebu untuk periode tahun 2026. Di balik pelestarian warisan budaya yang turun-temurun ini, para petani tebu kini tengah bersiap menghadapi tantangan berat akibat prediksi penurunan produksi.
Ketua DPC Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Tersana Baru, H. Mulyadi, menegaskan bahwa rangkaian ritual ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian krusial yang tak terpisahkan dari siklus pertanian tebu. Prosesi adat ini dimulai dari selamatan kebon (lahan), dilanjutkan dengan selamatan giling di pabrik, dan nantinya akan ditutup dengan syukuran massal setelah seluruh masa panen rampung.
“Tradisi ini sudah diwariskan sejak generasi terdahulu dan tetap konsisten kami jaga hingga hari ini. Insyaallah, nilai-nilai luhur ini akan terus diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya,” ujar Mulyadi saat memberikan keterangan di sela-sela acara.
Baca Juga:Menakar Peluang DOB Cirebon Timur: FCTM Perkuat Konsolidasi Lintaselemen dan Targetkan Pengesahan Akhir 2026Haru dan Khidmat, SMPN 1 Babakan Resmi Lepas 344 Lulusan Tahun 2026
Mulyadi memaparkan, prosesi selamatan ini sarat akan filosofi mendalam bagi keberlangsungan hidup para petani. Kehadiran simbol-simbol adat seperti tebu indung (induk), tebu penganten (pengantin), dan tebu pengiring bukan sekadar pajangan, melainkan simbol keberlanjutan kehidupan serta representasi doa untuk hasil panen yang melimpah. Karakteristik satu batang tebu yang mampu melahirkan banyak tunas baru dipandang sebagai lambang kesejahteraan yang diharapkan terus bersemi bagi para petani.
Terhantam Biaya dan Cuaca, Produksi Diproyeksi Merosot 20 Persen
Meskipun ritual dimulai dengan penuh khidmat dan harapan, awan mendung membayangi sektor produksi tebu di wilayah kerja PG Tersana Baru tahun ini. Mulyadi mengungkapkan bahwa para petani diperkirakan akan menghadapi penurunan hasil produksi yang cukup signifikan, yakni berkisar antara 10 hingga 20 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun lalu.
Sebagai perbandingan, pada musim giling tahun lalu, total lahan seluas 2.700 hektare mampu menyumbang produksi hingga lebih dari 2 juta kuintal tebu. Namun, akibat akumulasi berbagai kendala di lapangan, proyeksi produksi tahun ini diperkirakan merosot hingga ke angka 1,7 juta kuintal saja.
