Menurut analisis APTRI, merosotnya angka produksi ini dipicu oleh efek domino dari sejumlah faktor pelik. Mulai dari keterlambatan masa budidaya akibat rumitnya akses pembiayaan perbankan, lonjakan harga pupuk yang tak terkendali, melambungnya biaya operasional produksi, hingga faktor eksternal seperti anomali cuaca dan serangan hama yang kian masif.
“Beban modal yang harus ditanggung petani saat ini semakin berat karena biaya produksi melonjak drastis. Situasi ini diperparah oleh faktor cuaca ekstrem dan serangan hama yang langsung memukul kualitas serta kuantitas hasil panen,” keluh Mulyadi.
Meskipun harus mengarungi musim giling dengan berbagai hambatan, pihak APTRI menegaskan sikap mereka untuk tidak patah arang. Mulyadi menyatakan pihaknya tetap optimis roda industri gula tahun ini bisa berjalan optimal. Strategi utamanya adalah dengan memperketat pengawasan kualitas rendemen tebu di lapangan serta memperkokoh sinergi kemitraan dengan pihak manajemen pabrik gula.
Baca Juga:Menakar Peluang DOB Cirebon Timur: FCTM Perkuat Konsolidasi Lintaselemen dan Targetkan Pengesahan Akhir 2026Haru dan Khidmat, SMPN 1 Babakan Resmi Lepas 344 Lulusan Tahun 2026
Sebagai informasi, PG Tersana Baru memiliki wilayah kerja yang cukup luas di wilayah Ciayumajakuning dan sekitarnya dengan total areal mencapai 2.700 hektare. Persebaran lahan tebu tersebut mencakup wilayah Kabupaten Cirebon selaku basis utama seluas 1.900 hektare, disusul Kabupaten Brebes seluas 600 hektare, dan Kabupaten Kuningan seluas 150 hektare.
Komitmen Pabrik Gula Optimalkan Rendemen demi Kesejahteraan Petani
Merespons tantangan yang dihadapi para petani mitra, jajaran manajemen pabrik gula memastikan tidak akan tinggal diam. Direktur Utama PG Rajawali II, Ardian Wijanarko, menegaskan komitmen penuh perusahaan untuk menjaga dan merawat kepercayaan yang telah diberikan oleh para petani tebu yang beraliansi dengan PG Tersana Baru.
Ardian memastikan bahwa pihak pabrik akan mengerahkan upaya terbaik guna mengoptimalkan performa mesin dan proses penggilingan selama musim giling 2026. Fokus utama perusahaan adalah memastikan tingkat rendemen (kadar kandungan gula dalam tebu) berada di level tertinggi, sehingga mampu mendongkrak nilai bagi hasil yang lebih menguntungkan bagi para petani.
“Kami di jajaran manajemen PG berkomitmen untuk melakukan proses penggilingan tebu secara seoptimal mungkin demi menghasilkan kualitas rendemen dan sistem bagi hasil yang adil serta maksimal. Harapan besar kami, sinergi ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memberikan profitabilitas yang sehat bagi keberlanjutan pabrik,” pungkas Ardian. (rif/dbs)
