CIREBON – Gemuruh sorak-sorai ribuan warga memecah keheningan kawasan Pabrik Gula (PG) Sindanglaut, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, pada Senin (11/5/2026). Masyarakat dari berbagai penjuru tumpah ruah untuk menyaksikan “Kawin Tebu”, sebuah ritual sakral nan unik yang menandai dimulainya musim tebang dan giling tebu tahun 2026.
Tradisi yang telah mendarah daging selama lebih dari 130 tahun ini bukan sekadar seremoni biasa. Kawin Tebu merupakan manifestasi rasa syukur sekaligus doa kolektif para petani dan pekerja pabrik. Dalam prosesinya, dua batang tebu pilihan dihias menyerupai sepasang pengantin, lengkap dengan janur dan pernak-pernik khas, kemudian diarak keliling area pabrik sebagai simbol penyatuan antara petani dan pihak pengolah.
Bagi warga setempat, momentum ini kerap dijuluki sebagai “Lebarannya” para petani tebu. Suasana kegembiraan mencapai puncaknya saat prosesi sawer uang dimulai. Tanpa sekat, anak-anak hingga orang dewasa antusias berebut koin yang dilemparkan ke tengah kerumunan, menciptakan potret kebersamaan yang hangat di tengah hiruk-pikuk industri gula.
Baca Juga:Revitalisasi Rp15 Miliar Berujung Sepi, Komisi II DPRD Cirebon Soroti "Layu"nya Pasar PalimananPerkuat Identitas Budaya, Pemkab Cirebon Wajibkan Arsitektur Gapura Candi Bentar di Lingkungan Perkantoran
Filosofi ‘Akad’ Antara Petani dan Pabrik
Sekretaris DPC APTRI PG Sindanglaut, H. Ali Mazazli, menjelaskan bahwa tebu yang didandani layaknya pengantin merupakan simbol sumber kehidupan. Secara filosofis, prosesi ini melambangkan “akad” atau komitmen suci antara petani sebagai penyedia bahan baku dan pabrik sebagai pengolah.
“Tradisi ini adalah simbol kebersamaan dan harapan besar kami agar musim giling tahun ini membawa keberkahan bagi semua pihak. Petani menyerahkan hasil panen terbaiknya, dan pabrik berkomitmen mengolahnya secara optimal demi kesejahteraan bersama,” ujar Haji Ali di sela-sela acara.
Ia menambahkan bahwa sektor pergulaan merupakan urat nadi ekonomi masyarakat Lemahabang, sehingga keberhasilan musim giling sangat menentukan taraf hidup ribuan kepala keluarga yang bergantung pada komoditas ini.
Optimisme Target Produksi 14 Ribu Ton
Di sisi manajerial, General Manager (GM) PG Sindanglaut, Rony Kurniawan, menyatakan optimisme tinggi menyambut musim giling 2026. Didukung oleh faktor cuaca yang jauh lebih bersahabat dibandingkan tahun lalu, pihaknya mematok target produksi yang ambisius namun realistis.
“Kami menargetkan produksi gula tahun ini mencapai 14 ribu ton dengan angka rendemen sebesar 7,3 persen. Tradisi yang sudah berjalan 1,3 abad ini menjadi suntikan semangat bagi kami untuk mencapai target tersebut,” tegas Rony.
