Fatimah juga menepis keras stigma negatif yang menyebut dirinya pernah bekerja sebagai perempuan malam. Ia menganggap tuduhan tersebut sebagai pembunuhan karakter yang sangat keji bagi seorang ibu. Selama hampir satu dekade membangun rumah tangga, ia mengaku telah berupaya maksimal untuk bersabar dan bertahan demi anak-anaknya.
Fokus pada Ketenangan Anak
Bagi Fatimah, prioritas tertingginya saat ini bukanlah memenangkan opini publik, melainkan melindungi kondisi psikologis buah hatinya. Ia menyayangkan bagaimana drama rumah tangga ini harus terekspos sedemikian rupa hingga berdampak pada anak-anak yang masih membutuhkan ketenangan.
“Anak-anak saya tidak butuh drama atau pemberitaan yang terus menyudutkan ibunya. Mereka butuh ketenangan. Saya berharap proses hukum yang berjalan nantinya bisa objektif dan adil tanpa ada serangan personal yang menghancurkan nama baik,” tambahnya.
Baca Juga:Lautan Manusia Padati Kawasan BAT, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Hipnotis Warga CirebonTekan Angka Kemiskinan, Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon Matangkan Konsep ‘Rumah Terintegrasi’
Menutup keterangannya, pihak kuasa hukum mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum terverifikasi kebenarannya. Hetta menegaskan bahwa setiap keluarga memiliki luka masing-masing yang tidak semestinya dijadikan komoditas publik. “Tidak semua luka rumah tangga layak menjadi konsumsi khalayak luas,” pungkasnya. (rif/dbs)
