Kejar Target Zero TB 2030, Dinkes Kabupaten Cirebon Gencarkan Skrining Door-to-Door ke Desa

Skrining TBC
Foto ilustrasi kegiatan Skrining TBC yang dilaksanakan oleh Dinkes Kabupaten Cirebon ke desa-desa
0 Komentar

CIREBON – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) resmi meluncurkan gerakan masif surveilans tuberkulosis (TBC) dengan metode jemput bola. Program skrining keliling ini menyasar desa-desa dengan tingkat kasus tinggi guna memutus rantai penularan di tingkat akar rumput.Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi strategis antara Pemerintah Kabupaten Cirebon dengan lembaga non-pemerintah (NGO).

Fokus utama program adalah mendeteksi secara dini kelompok berisiko tinggi, yang meliputi warga yang tinggal serumah dengan penderita TBC, kontak erat di lingkungan pergaulan, anak dengan kondisi stunting atau gizi buruk, hingga penderita penyakit penyerta seperti diabetes melitus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Hj. Eni Suhaeni, melalui Kepala Bidang P2P, Mona Isabella Saragih, mengungkapkan bahwa efektivitas program ini didorong oleh peran kader penjangkau di lapangan.

Baca Juga:Buntut Viral Siswa Olok Guru, Disdik Jabar Resmi Larang Penggunaan Ponsel Saat KBM 1,5 Juta Siswa SD Ikuti TKA Perdana Serentak Hari Ini

“Para kader bekerja berdasarkan data penderita TBC dari puskesmas. Mereka mendatangi rumah pasien secara langsung dan membagikan undangan kepada keluarga maupun tetangga sekitar untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan di balai desa. Kami mewajibkan seluruh kontak erat hadir untuk memastikan tidak ada penularan yang tersembunyi,” ujar Mona saat memberikan keterangan pers, Senin (20/4/2026).

Teknologi AI dan Mobil X-Ray Keliling

Untuk mendukung keakuratan diagnosis di lapangan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menerjunkan tiga unit mobil X-ray keliling ke wilayah Kabupaten Cirebon. Warga yang menunjukkan gejala klinis, seperti batuk berkepanjangan, akan diarahkan untuk menjalani rontgen di tempat.

Menariknya, hasil foto rontgen tersebut tidak hanya mengandalkan mata manusia, tetapi juga memanfaatkan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk pembacaan awal yang cepat dan presisi. Setelah hasil AI keluar, dokter puskesmas akan melakukan verifikasi akhir untuk memastikan diagnosis medis pasien.

“Program tahap pertama ini dijadwalkan menyisir 60 wilayah kerja puskesmas selama 18 hari. Setiap harinya, tiga unit mobil rontgen bergerak simultan ke tiga desa yang berbeda. Saat ini, kegiatan telah memasuki hari ketujuh pelaksanaan,” tambah Mona.

Penemuan Kasus Anak dan Tantangan Jam Kerja

Dalam pelaksanaan skrining tersebut, tim medis menemukan seorang anak berusia 9 tahun yang masuk kategori suspek TBC. Dinkes segera mengambil langkah cepat dengan memberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT) selama tiga bulan secara cuma-cuma. Mona menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan dan pencegahan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.

0 Komentar