BANDUNG — Panggung bursa kepemimpinan nasional kembali diguncang oleh dinamika politik elektoral yang menarik perhatian publik. Berdasarkan hasil riset terbaru yang dirilis oleh lembaga Media Survei Nasional (Median), nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, mendadak melesat menempati posisi kedua dalam peta elektabilitas calon presiden (capres).
Kendati namanya kini sejajar di jajaran bursa tokoh nasional dengan perolehan suara yang signifikan, respons tak terduga justru ditunjukkan oleh sang tokoh utama. KDM memilih untuk mengambil langkah seribu dan enggan memberikan komentar apapun.
Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun menjelaskan, di beberapa wilayah elektabilitas KDM memang sangat menonjol. Temuan riset Median menunjukkan bahwa bursa simulasi pencalonan presiden menempatkan dinamika yang amat kompetitif.
Baca Juga:Gol Debut Mariano Peralta Bawa Persib ke ACL 2, Tapi Kritik Tajam untuk Maung Bandungbank bjb dan YKEP Perkuat Sinergi, Perluas Pemanfaatan Produk dan Layanan Perbankan
Dalam simulasi tersebut, posisi puncak masih dipegang oleh Presiden Prabowo Subianto dengan raihan angka elektoral di kisaran 32,4 persen. Namun, yang menjadi sorotan tajam para pengamat politik adalah kemunculan nama KDM di urutan kedua yang sukses membukukan elektabilitas sebesar 20,6 persen, mengekor ketat di bawah perolehan sang petahana serta bersaing ketat dengan tokoh-tokoh nasional lainnya. Atas hasil survei ini, Rico menjelaskan bahwa Prabowo Subianto memiliki basis dukungan yang lebih tersebar.
“Dukungan KDM terkonsentrasi di Banten, Jakarta dan Jawa Barat,” jelasnya.
Survei Median dilakukan melalui wawancara tatap muka atau face-to-face interview pada 21 Juli hingga 2 Agustus 2026. Survei menyasar warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih. Sebanyak 1.212 responden menjadi sampel dalam survei tersebut.
Median menyebut survei memiliki margin of error sebesar ±2,76 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode multistage random sampling dengan distribusi responden secara proporsional berdasarkan populasi provinsi dan gender.
Kendati angka tersebut merefleksikan lonjakan dukungan yang masif—terutama ditopang oleh migrasi pemilih dan kantong suara kuat di wilayah Jawa Barat—KDM tampak bergeming. Saat dikonfirmasi dan dimintai tanggapan oleh awak media terkait tren positif elektabilitasnya sebagai calon presiden yang kian melejit di kancah nasional, mantan Bupati Purwakarta tersebut menolak memberikan ulasan panjang lebar.
