Neraca Perdagangan Jawa Barat Meroket, Cetak Surplus USD 11,31 Miliar Sepanjang Januari-Mei 2026

Neraca perdagangan jabar
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat melaporkan neraca perdagangan Tatar Pasundan berhasil mencetak surplus besar mencapai USD 11,31 miliar selama periode Januari hingga Mei 2026.
0 Komentar

​Secara sektoral, geliat industri manufaktur dan agribisnis terlihat nyata. Sektor Pertanian tumbuh positif sebesar 3,11 persen dan sektor Industri Pengolahan mulai naik 3,85 persen. Berbeda dengan sektor industri, sektor Pertambangan serta sektor Migas harus terkoreksi masing-masing sebesar 8,84 persen dan 14,78 persen.

​Sisi Impor: Pengurangan Bahan Baku dan Dominasi Produk Tiongkok

​Di saat ekspor melaju kencang, kinerja impor Jawa Barat malah menunjukkan tren melambat. BPS mencatat total nilai impor Januari-Mei 2026 berada di angka USD 4,66 miliar, alias turun 7,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada bulan Mei 2026 sendiri, nilai impor tercatat USD 0,98 miliar, turun 4,94 persen secara year-on-year.

Meskipun secara total menurun akibat anjloknya impor migas sebesar 60,48 persen (menjadi USD 262,21 juta), impor nonmigas secara kumulatif sebenarnya masih mengalami kenaikan tipis 1,07 persen dengan nilai USD 4,39 miliar. Penurunan impor terdalam terjadi pada Golongan Kendaraan dan Bagiannya yang merosot hingga USD 145,14 juta atau anjlok 42,40 persen. Sebaliknya, impor Golongan Mesin dan Perlengkapan Elektronik justru meningkat tajam sebesar USD 108,64 juta atau naik 16,32 persen.

Baca Juga:Wagub Erwan Serukan Masyarakat Jabar Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026Wagub Jabar Soroti Judi Online di Kalangan ASN, Minta Ombudsman Perkuat Pengawasan dan Pembinaan

​Terkait negara asal barang, Tiongkok masih mendominasi pasar domestik Jawa Barat sebagai pemasok barang impor nonmigas terbesar dengan nilai USD 1,82 miliar atau menguasai pangsa pasar sebesar 41,47 persen. Posisi selanjutnya diisi oleh Korea Selatan dengan nilai USD 527,67 juta (12,00 persen) dan Jepang sebesar USD 518,81 juta (11,80 persen).

​Secara makro, penurunan impor ini terjadi secara merata di semua golongan penggunaan barang. Impor Barang Konsumsi turun 5,37 persen, Bahan Baku/Penolong yang biasa digunakan industri menyusut 6,33 persen, dan Barang Modal yang menandakan investasi alat produksi ikut turun 13,68 persen dibandingkan lima bulan pertama tahun lalu. Tren penurunan ini menunjukkan tidak adanya efisiensi atau optimalisasi bahan baku lokal di sektor industri Jawa Barat. (keterangan)

0 Komentar