CIREBON – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon memproyeksikan kinerja ekspor produk rotan akan mengalami penguatan signifikan sepanjang tahun 2026. Optimisme ini didasari oleh tren pertumbuhan nilai ekspor furnitur rotan yang relatif stabil dan terus menunjukkan resiliensi di tengah dinamika pasar global yang fluktuatif.
Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon, Suhartono, menegaskan bahwa industri rotan tetap menjadi tulang punggung ekonomi daerah yang konsisten berkontribusi besar terhadap devisa. Menurutnya, meski sempat terjadi dinamika angka dalam beberapa tahun terakhir, grafik jangka panjang menunjukkan arah yang positif.
“Nilai ekspor rotan saat ini cukup stabil, bahkan menunjukkan tren peningkatan yang menggembirakan jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Kami sangat optimistis tahun 2026 akan menjadi momentum penguatan kembali bagi para eksportir lokal,” ujar Suhartono saat memberikan keterangan pers pada Senin (4/5/2026).
Baca Juga:Ledakan Tabung Gas Picu Kebakaran Hebat di Greged, Satu Rumah Ludes TerbakarGeng Konten di Cirebon Diringkus: Selain Sajam, Empat Remaja Positif Narkoba
Fluktuasi yang Mencerminkan Ketangguhan
Berdasarkan data statistik yang dihimpun Disperdagin, sektor rotan dan furnitur mencatatkan performa yang dinamis. Pada tahun 2023, nilai ekspor tercatat sebesar 102,79 juta dolar AS, yang kemudian melonjak tajam menjadi 156,97 juta dolar AS pada tahun 2024.
Meskipun pada tahun 2025 angka tersebut mengalami koreksi ke level 126,84 juta dolar AS, Suhartono menilai pencapaian tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan performa tahun 2023. Hal ini, menurutnya, membuktikan bahwa daya tahan industri rotan Cirebon sangat teruji meski dihantam ketidakpastian ekonomi global.
Mengatasi Kendala Bahan Baku Impor
Di balik performa ekspor yang impresif, industri ini tidak lepas dari tantangan teknis, terutama terkait ketergantungan pada beberapa komponen pendukung finishing. Penggunaan bahan seperti pernis berbasis minyak bumi diketahui masih harus didatangkan dari luar negeri.
“Memang ada ketergantungan pada bahan baku pendukung yang masih impor, seperti pernis. Namun, kami memastikan dampaknya terhadap volume ekspor secara keseluruhan tidak terlalu signifikan. Fokus kami tetap pada peningkatan kualitas produk akhir,” tambah Suhartono.
Strategi Penguatan IKM melalui Inovasi
Sebagai langkah konkret menjaga daya saing di pasar internasional, Disperdagin telah menginisiasi program pendampingan teknis intensif bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM). Program yang berlangsung pada 14–17 April 2026 lalu ini melibatkan 30 pelaku usaha terpilih.
