CIREBON – Rencana studi tour di MTsN 8 Cirebon, Desa Panggangsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, menuai sorotan dari sejumlah wali murid. Selain dinilai memberatkan, rencana tersebut juga dikaitkan dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang membatasi hingga melarang kegiatan study tour, terutama yang berbiaya tinggi atau ke luar daerah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi dari aduan wali murid, biaya kegiatan tersebut diperkirakan sekitar Rp500 ribu per siswa. Di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit, sebagian orang tua mengaku keberatan dan menyampaikan keluhan kepada tim JP. Mereka juga menyinggung kebijakan gubernur yang menekankan agar kegiatan sekolah tidak membebani wali murid.
Seorang wali murid yang menyebutkan, biaya tersebut mencakup makan dua kali serta tiket masuk ke beberapa lokasi wisata di Jawa Barat. “Batas pembayaran ditetapkan hingga 30 Mei 2026, dengan jadwal keberangkatan pada 19 Juni 2026, setelah pembagian rapor. Terus terang ditengah kondisi ekonomi yang sulit begini kami keberatan dengan kegiatan tersebut,” kata sumber JP yang meminta identitasnya tidak dipublish ini.
Baca Juga:Harga LPG 12 Kg Meroket Jadi Rp228 Ribu, Tertinggi Sejak 2023Rem Mendadak Berujung Petaka, Truk Pengangkut Baja Ringsek di Pantura Cirebon
Selain itu, wali murid juga mengungkap adanya surat persetujuan yang harus ditandatangani orang tua, serta kekhawatiran seolah seluruh siswa diwajibkan ikut. Kondisi ini dinilai semakin memberatkan, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Pihak Sekolah Buka Opsi Pembatalan
Menanggapi hal tersebut, Kepala MTsN 8 Cirebon, Dra. Hj. Ayah Aliyah, M.Pd.I., menegaskan bahwa rencana studi tour telah dibahas bersama orang tua dan komite sekolah, serta tidak bersifat wajib.
“Sudah dirapatkan dengan orang tua murid dan komite. Itu juga berdasarkan permohonan dari siswa, panitia hanya melaksanakan. Kalau memang ada yang keberatan, ya bisa dibatalkan. Kami tidak memaksa siswa untuk ikut,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (19/4/2026) sore.
Terkait isu yang menyebut siswa yang tidak mengikuti studi tour akan dipersulit secara akademik, pihak sekolah membantah tegas.
“Itu tidak benar. Panitia hanya memberitahu bahwa kegiatan ini tidak memaksa. Mau ikut silakan, tidak ikut juga tidak apa-apa,” tambahnya.
Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Cirebon, Jajang Badruzzaman, mengatakan pihaknya akan melakukan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak madrasah.
