Tito menegaskan bahwa keberadaan kontingen di tempat istirahat tersebut murni untuk keperluan biologis dan konsumsi setelah menempuh perjalanan panjang, tanpa sedikit pun niat untuk memicu gesekan dengan kelompok suporter mana pun.
”Kita tidak ada pemikiran untuk kita bertemu dengan kelompok suporter atau apa. Kita hanya pure memang pengen istirahat, melakukan istirahat, beberapa pemain juga sudah pada pengen ke toilet atau melakukan aktivitas makan malam karena memang jamnya sudah terlalu terlambat,” tegasnya.
Kasus penyerangan terhadap bus pembinaan usia dini ini membuka perspektif penting mengenai betapa rentannya keselamatan atlet muda dari ekses rivalitas suporter di ruang publik lintas daerah. Manajemen Persib Bandung mengecam keras tindakan anarkis tersebut dan telah resmi melaporkannya kepada Polresta Batang, PSSI, serta I.League untuk memastikan para pelaku penyerangan dan penjarahan mendapatkan sanksi hukum yang setimpal demi menjaga marwah sportivitas sepak bola Indonesia. (dbs/red)
