BANDUNG – Gempar suara dentuman misterius yang sempat memecah keheningan malam dan meresahkan warga di wilayah Bandung Raya hingga Kabupaten Sumedang akhirnya mendapat penjelasan resmi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa fenomena akustik yang terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari tersebut tidak memiliki kaitan sama sekali dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau maupun guncangan gempa bumi.
Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahmadi, menegaskan bahwa berdasarkan hasil pengolahan data komperehensif yang dilakukan oleh lembaga berwenang, laporan suara dentuman yang dikeluhkan masyarakat tidak memperlihatkan adanya indikasi aktivitas seismik atau pergerakan lempeng di sekitar wilayah Bandung Raya.
“Berdasarkan data yang tersedia, suara dentuman yang dilaporkan masyarakat tidak menunjukkan indikasi sebagai kejadian gempa bumi,” ujar Suaidi saat memberikan keterangan resmi.
Baca Juga:Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Dentuman Kuat Terdengar hingga Jawa Barat dan Banten200 Becak Listrik Resmi Meluncur di Cirebon: Solusi Mobilitas Lansia Sekaligus Ikon Baru Pariwisata Kota Wali
Lebih lanjut, pihak BMKG Stasiun Geofisika Bandung merinci bahwa pihaknya langsung bergerak cepat melakukan investigasi mendalam menyusul laporan warga yang mendengar suara aneh tersebut berkisar antara pukul 00.30 hingga 05.00 WIB. Pengecekan dilakukan secara menyeluruh dengan memonitor parameter kegempaan, sebaran aktivitas petir, kondisi cuaca regional, hingga fluktuasi magnet bumi.
Berdasarkan analisis cuaca di Jawa Barat pada kurun waktu tersebut, kondisi atmosfer terpantau cerah dengan pergerakan angin dominan bertiup dari arah timur ke barat. Kendati demikian, pemantauan lebih lanjut menunjukkan adanya dinamika anomali tersendiri yang terekam pada instrumen penunjang.
“Berdasarkan hasil pemantauan data kegempaan BMKG, tidak terdeteksi adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya,” imbuh Suaidi mempertegas hasil analisis alat pencatat gempa.
Meski demikian, catatan seismogram di Pulau Sibesi sempat merekam adanya anomali pada pukul 16.08 UTC dan 16.32 UTC atau sekitar pukul 23.08 serta 23.32 WIB. Pihak BMKG menyatakan bahwa temuan anomali tersebut masih membutuhkan kajian dan analisis lanjutan yang komprehensif guna mengidentifikasi karakteristik fisik, titik sumber, serta tingkat korelasinya dengan suara dentuman yang menghebohkan warga.
Selain itu, pembacaan data magnet bumi yang dicatat melalui Stasiun Sukabumi (SKB) dan Serang (SRG) pada rentang waktu 4 September pukul 23.00 WIB hingga 5 September pukul 02.00 WIB memperlihatkan adanya rekaman gangguan atau anomali magnetik. Karena tidak ditemukan adanya indikasi badai matahari yang memicu gangguan luar angkasa pada saat bersamaan, BMKG menduga kuat anomali tersebut bersumber murni dari dinamika di dalam perut bumi. (red/dbs)
