NTT – Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS berusia sekitar 10 tahun ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di sebuah pohon cengkih di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (29 Januari 2026). Peristiwa ini menjadi sorotan media nasional setelah beberapa laporan mengaitkannya dengan masalah ekonomi keluarga.
Penyebab Diduga Karena Ketidakmampuan Memenuhi Permintaan Buku
Laporan media massa menyebut bahwa sebelum kejadian, korban sempat meminta ibunya dibelikan buku tulis dan alat tulis sekolah, tetapi permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Korban dilaporkan meninggalkan surat perpisahan singkat untuk ibunya.
Petugas kepolisian mengonfirmasi ditemukannya secarik kertas bertuliskan pesan terakhir dari YBR kepada ibunya, namun pihak berwenang belum memberikan pernyataan resmi rinci tentang motif psikologis atau tekanan lain di luar persoalan permintaan buku tersebut.
Baca Juga:Samsung Galaxy S26 Ultra Terancam Naik Harga, RAM dan Memori Jadi Biang Kerok?iPhone 18 Pro, 18 Pro Max Mulai Terkuak, Kamera 48MP hingga Chip A20 Pro Jadi Sorotan
Catatan redaksi dari beberapa sumber menyatakan bahwa tragedi ini “diduga dipicu” oleh hal tersebut — belum ada konfirmasi final dari aparat terkait motivasi pasti kejadian.
Lokasi dan Respons Publik serta Pemerintah
Beberapa media nasional Indonesia menyebut lokasi kejadian sebagai Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Anggota Komisi X DPR RI menyatakan keprihatinan atas peristiwa ini, menyebutnya sebagai “alaram keras” bahwa masih ada anak-anak yang belum mendapatkan kebutuhan pendidikan dasar seperti buku dan alat tulis. Ia juga mendorong investigasi lebih lanjut dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait apakah program bantuan pendidikan sudah tepat sasaran.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti). Mama Galo Zee (Mama pelit sekali). Mama molo Ja’o Galo mata Mae. Rita ee Mama baik sudah). (Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee Mama (Kalau saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya). ee Molo Mama (Selamat tinggal mama).
Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat itu ditulis korban.
