Bukan hanya bangsa Celt dan Gaul saja yang memiliki tradisi merayakan hasil bumi. Orang-orang Romawi kuno juga merayakan festival Pomona—dewi buah dan taman—pada kisaran tanggal 1 November.
Mulai abad ke-9, orang-orang Katolik di Inggris menjadikan 1 November sebagai hari peringatan santo-santa. Satu malam sebelum perayaan ini diperingati sebagai All Hallows Even, cikal bakal istilah Halloween. All Hallows Even diikuti dengan praktik pengusiran roh dan penghormatan kepada orang-orang mati di berbagai negara Eropa. Mereka percaya bahwa api bisa mengusir roh jahat, maka api unggun pun dibuat di pemakaman.
Di samping itu, mereka juga mengadakan pertunjukan dan prosesi yang di dalamnya terdapat pemberian hadiah atau uang. Inilah yang kemudian diteruskan dalam tradisi “tricks or treats” pada era modern di negara-negara Barat.
Baca Juga:Pentas Lumba-lumba dan Aneka Satwa Lainnya Masih DibukaDesa Sumber Kidul Mantapkan Infrastruktur Di Akhir 2017
Di Country Cork, Irlandia, orang-orang datang dari rumah ke rumah dan mengikuti satu orang yang menutupi tubuhnya dengan kain putih dan menenteng kepala kuda. Sementara di Wales, bocah laki-laki dan perempuan memakai pakaian dari lawan gendernya saat menghampiri rumah-rumah pada All Hallows Even. Imigran-imigran dari Irlandia dan Inggris lantas membawa tradisi ini ke tanah Amerika Serikat, tempat Halloween menjadi salah satu perayaan populer di samping Natal dan Thanksgiving.
Rupa-Rupa Kostum Halloween
Meski kini kostum dengan beragam tema jamak dikenakan pada Halloween, mulanya hanya kostum dengan tema tertentu yang dipilih oleh orang-orang yang merayakannya. Pakaian compang-camping atau yang serupa hantu atau penyihir dikenakan supaya mereka bisa mengelabui roh jahat yang berkeliaran pada tanggal 31 Oktober.
Mereka juga membubuhi wajahnya dengan abu supaya roh jahat tidak menghampiri. Dulu di daerah Jerman dan Perancis, orang-orang menggunakan kostum dari kulit dan kepala hewan untuk bisa berhubungan dengan arwah-arwah pada peringatan Halloween.
Menarik untuk melihat tradisi Halloween yang diteruskan ke berbagai negara. Bila dalam perayaan lain di Amerika Serikat seperti Natal, Valentine, atau Paskah yang diangkat adalah sosok-sosok baik—seperti Santa Claus, Cupid, dan kelinci Paskah—, dalam perayaan Halloween, justru sosok-sosok antagonis yang ditonjolkan. Caplow et. al. (1982) yang menulis Middletown Families: Fifty Years of Change and Continuity memandang Halloween sebagai antitesis dari perayaan-perayaan lain di Negeri Paman Sam.
