Harga BBM Terancam Naik Imbas Lonjakan Minyak Dunia? Ini Penjelasan Bahlil

ilustrasi lonjakan harga BBM
ilustrasi lonjakan harga BBM
0 Komentar

JAKARTA – Lonjakan harga minyak mentah global memicu kekhawatiran publik terhadap potensi kenaikan Harga BBM di Indonesia. Situasi geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas membuat pasar energi bergejolak, dan masyarakat mulai mempertanyakan apakah Harga BBM di dalam negeri akan ikut terdongkrak.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kebijakan Harga BBM di Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga minyak dunia. Ia menjelaskan, skema BBM nasional terbagi menjadi dua kelompok, yakni BBM bersubsidi dan BBM non-subsidi.

“BBM dalam negeri itu kan dua, ada subsidi, ada yang di pasar. Kalau subsidi bensin Pertalite kalau naik gimanapun harga sama sebelum perubahan harga pemerintah,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga:Kuota Mudik Gratis 2026 Tinggal 660 Kursi, Dishub Jabar Minta Warga Segera DaftarOTT di Pekalongan, KPK Amankan Bupati Fadia Arafiq dan 10 Orang Lainnya

Artinya, untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar subsidi, pemerintah memastikan Harga BBM tidak serta-merta berubah meski harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Selama belum ada kebijakan baru dari pemerintah, harga tetap mengacu pada keputusan terakhir yang berlaku.

Berbeda dengan BBM non-subsidi, penyesuaian Harga BBM jenis ini mengikuti mekanisme pasar. Pemerintah tetap mengacu pada regulasi yang berlaku, termasuk Peraturan Menteri ESDM Nomor 22 sebagai dasar formula penentuan harga. “Kalau non subsidi ini kan sesuai dengan harga pasar sebelumnya berdasarkan permen 22. Kalau subsidi kalau gak ada kebijakan baru maka harga akan sama termasuk untuk Solar,” ujarnya.

Gejolak harga minyak dunia sendiri dipicu oleh meningkatnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Iran bahkan mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan mengancam kapal-kapal yang melintas. Ancaman tersebut memperbesar risiko terganggunya distribusi energi global, mengingat jalur itu dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari.

Seorang pejabat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Ebrahim Jabari, menyatakan, “Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu.” Ia juga memperingatkan potensi serangan terhadap jalur pipa minyak dan bahkan memprediksi harga minyak bisa menembus US$200 per barel dalam waktu dekat.

0 Komentar