“Banyak faktor yang mempengaruhi inflasi tapi ada empat faktor besar yang menyebabkan inflasi tinggi,” jelas Wiwiek.
Penyebab pertama menurutnya adalah masalah pasokan atau distribusi. Kedua, terkait dengan keterbatasan pada infrastruktur. “Kita paham bahwa infrastruktur di Jabar termasuk baik dibanding daerah lain tetapi masih harus terus ditingkatkan lagi,” katanya.
Selain itu, struktur pasar dan mekanisme pembentukan harga juga mempengaruhi inflasi. “Kita tahu komoditas utama masyarakat sangat ditentukan oleh struktur pasarnya seperti apa,” ucap Wiwiek.
Baca Juga:Jabar Berkomitmen Sehatkan Perempuan Melalui IVA-Test dan SadanisJalin Silaturahim, Humas Pemkab Bekasi Adakan Media Gathering
Terakhir yaitu terkait dengan aspek inflasi itu sendiri, bagaimana harapan-harapan masyarakat terhadap inflasi. “Begitu masyarakat berhatap inflasi tinggi maka biasanya inflasi tinggi pun akan terjadi,” terangnya.
Menurut Wiwiek, melihat perekonomian Jabar tahun 2017 ini trend nya sedang mengalami pelemahan. Pelemahan ini juga terjadi secara nasional bukan hanya di Jabar.
“Di tahun 2016 perekonomian Jabar tumbuh sebesar 5,67 persen tapi di triwilan I dan II tahun 2017 berada di level 5,28, ini yang menyebabkan sulitnya mencapai level di tahun 2016,” terangnya.
Walaupun begitu lanjut Wiwiek, pertumbuhan ekonomi Jabar hingga kini masih diatas rata-rata nasional. “Tetapi Jabar masih akan tetap berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional dan akan ada di kisaran 5,60 persen,” pungkasnya. (hms/rls)
