Untuk itu, pada kesempatan ini Demiz mendorong warga Katulampa bisa menggali berbagai potensi kreativitas lainnya selain potensi alam. Mereka bisa mengembangkan seni dan budaya khas Katulampa, kuliner, atau pengembangan berbagai produk pertanian.
Melalui pemanfaatan potensi ini, menurut Demiz masyarakat bisa mendapatkan pemasukan tanpa menunggu bantuan dari Pemerintah. Pendapatan ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan warga sendiri, seperti peningkatan taraf hidup dan kesehatan, pendidikan, perbaikan infrastruktur kampung, dan kebutuhan lainnya.
Koordinator Gemarsawi Katulampa, Faiz, mengatakan bahwa Gemarsawi merupakan proses panjang yang telah dilakukan oleh warga Katulampa. Warga Kelurahan Katulampa menempa dirinya dengan belajar untuk mengenal atau sadar akan potensi yang dimiliki lingkungan di sekitarnya.
Baca Juga:5 Kader PDIP Desak DPP Tidak Rekom PetahanaBOP PAUD, Puluhan Massa Datangi Disdik Kabupaten Tasik
“Bersama masyarakat, berbulan-bulan, siang-malam kita berproses sambil belajar. Maka dirumuskanlah yang namanya Gemarsawi. Proses awalnya ini proses natural, melalui proses diskusi yang lumayan panjang. Masyarakat juga secara perlahan belajar tentang apa sih yang membuat kita prihatin,” papar Faiz.
Bentuk keprihatinan tersebut secara perlahan menjadi sebuah gerakan sistematis dan terorganisasi dengan baik. Dengan rasa percaya diri dan keyakinan tinggi, warga pun mulai merealisasikan Gemarsawi. Hingga kini, Gemarsawi telah melahirkan berbagai jaringan komunitas dalam berbagai hal – tidak hanya di Katulampa namun sudah melanda ke wilayah atau Kelurahan lainnya. Ke depan, selain telah menjadi wadah atau Forum Gemarsawi Indonesia rencananya akan dibentuk pula Gemarsawi Institue.
“Kita berkomitmen, sebelum Gemarsawi menjadi Gerakan Nasional Masyarakat Sadar Wilayah, kita tidak akan berhenti. Karena Indonesia perlu kesadaran, keasadaran dalam berbagai hal,” pungkas Faiz. (hms/rls)
