“Jurnalisme Tabayyun” Antarkan Gubernur Aher Raih Pena Emas Dari PWI Pusat

"Jurnalisme Tabayyun" Antarkan Gubernur Aher Raih Pena Emas Dari PWI Pusat
0 Komentar

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dianugerahi Pena Emas oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pusat. Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua PWI Pusat Margiono di Gedung Sate Jumat (10/03/2017), setelah dilakukan uji kompetensi kepada Aher dihadapan para pengurus PWI, para tokoh dan media.

"Jurnalisme Tabayyun" Antarkan Gubernur Aher Raih Pena Emas Dari PWI Pusat

Pena emas sendiri adalah bentuk penghargaan tertinggi dari PWI yang diberikan kepada tokoh atau pihak-pihak yang dinilai berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pers di Indonesia. Hal inilah yang membuat Gubernur Aher dinilai layak untuk mendapatkannya.

Dianugerahi pena emas, Aher mengaku tak menyangka akan meraih penghargaan tertinggi PWI ini.

Baca Juga:Tim APN 2017 Lakukan Penilaian Tahap IIIni Cara Yang Harus Dilakukan Saat Anak Pingsan, Gara-gara Main Skip Challenge

“Saya kaget dan tidak menyangka, mungkin karena pembangunan yang telah kita lakukan semenjak awal dan urusan-urusan pemerintah kita yang selalu terbuka kepada pers,” ungkapnya.

“Terimakasih atas penilaian kepantasan mendapatkan anugerah yang sangat berharga ini, mudah-mudahan saya bisa menjaga amanah ini untuk berkomitmen dengan nilai-nilai kejujuran termasuk dalam media,” lanjutnya.

Saat uji kompetensi, Aher menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Jurnalisme Tabayyun” yang akhirnya diputuskan oleh 7 Panelis dari Dewan Kehormatan PWI pusat untuk direkomendasikan mendapatkan nilai Cumlaude dan layak dianugerahi Pena Emas.

Dalam orasinya, Aher bercita-cita menghadirkan pers yang sehat, menyampaikan berita berimbang, mengadvokasi masyarakat, mengetahui hak dan kewajiban, bahasa yang menyejukkan dan mampu menjadi kontrol sosial yang baik.

“Tadi saya kemukakan hal yang perlu dilakukan adalah bersikaplah ketika ada informasi yang datang, periksa atau cek dan ricek kebenaran berita tersebut,” kata Aher.

Aher mengatakan, dalam bahasa Al-Quran hal itu disebut dengan Tabayyun. Sebuah sikap yang seringkali keliru di masyarakat adalah ketika ada informasi yang memberitakan seseorang dari sumber tertentu maka yang sering diklarifikasi malah orang yang diberitakan. Seharusnya yang harus diklarifikasi adalah si pembuat berita.

Aher menuturkan, terutama di media sosial orang bahkan dengan sengaja menggunakan bahasa yang sarkastis dan tak jarang beritanya hoax. Hal inilah yang perlu diselesaikan dan diadvokasi ke masyarakat.

Baca Juga:Dongkrak Partisipasi Suara Pilbup 2018, Kang Luthfi Datangi KPU Kab CirebonTokoh Anti Korupsi, Gamawan Fauzi Turut Menikmati US$ 4,5 Juta Dan Rp 50 Juta e-KTP

“Karena itu mari kita hadirkan jurnalisme yang sehat dengan menghadirkan jurnalisme Tabayyun atau jurnalisme yang cek dan ricek,” tutur Aher.

0 Komentar