Polisi masih Kelabakan, di Medsos makin Marak Foto Geng Motor Penusuk Anggota Kopassus

Polisi masih Kelabakan, di Medsos makin Marak Foto Geng Motor Penusuk Anggota Kopassus
0 Komentar

Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, berang. Menhan langsung meminta seluruh geng motor ditumpas habis. “Geng-geng dihabisi saja semuanya karena itu meresahkan. Harus ditangkap semua itu,” tegas Ryamizard di Jakarta.

Kata dia, aksi-aksi serupa harusnya diberantas habis sampai ke akar-akarnya. Hal itu, lantaran, geng-geng tersebut sangat meresahkan masyarakat. Pihak TNI mengaku menyerahkan kasus ini ke pihak kepolisian.

Wagub Jabar Deddy Mizwar melihat peristiwa penusukan terhadap Pratu Galang, merupakan peristiwa luar biasa. Ulah berandalan bermotor saat ini, sudah semakin nekat hingga prajurit saja berani diserang.

Baca Juga:Mulai Besok, Menerobos Busway Didenda Rp500 RibuTeler di Pinggir Jalan, 3 Pemuda di Tasikmalaya Diringkus Polisi

“Ini luar biasa. Ini seorang anggota kopassus saja digitukan, gimana kita?” kata Deddy Mizwar.

Sementara itu, Psikolog Forensik Reza Indragiri menilai tewasnya rekan sejawat bisa memicu pembalasan dendam dari anggota TNI. Kondisi itu bisa terjadi karena setiap tentara terjangkit anxiety stress disorder.

“Itu yang bisa dialami oleh tentara yang sejawatnya tewas, apalagi akibat kecelakaan maupun sebagai korban,” jelas Reza saat dihubungi merdeka.com, Jumat (10/6).

Dia memastikan, tindakan kekerasan terhadap pelaku pembunuhan Pratu Galang bisa saja terjadi. Jika tidak menemukan pelakunya, bisa jadi anggota geng motor yang sama dengan pelaku namun tak terkait dengan kejadian itu bisa menjadi sasaran amukan tentara.

“Tindakan kekerasan ke pihak yang dianggap telah menganiaya sejawat. Jika (pelaku) tidak bisa dijangkau, bisa pula menyasar orang-orang lain sebagai substitusi (pengganti),” paparnya.

Penyakit tersebut, lanjut Reza, sering terjadi di kalangan militer dan sangat serius. Rekan sejawatnya bisa saja melakukan tindakan yang melawan hukum. “Bahwa ada tentara yang bertindak di luar ketentuan, tetap salah. Tapi ada sisi insani mereka yang boleh jadi jauh lebih kompleks dari pada yang diduga, dan itu perlu dijadikan sebagai bahan cermatan. Termasuk dalam ranah hukum,” ujar dosen Psikologi Forensik di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini.

Meski demikian, dia menganjurkan agar seluruh prajurit menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum di tanah air. “Penanganan dari jalur psikologis adalah pembinaan kesehatan psikis personel secara berkesinambungan, plus terus menerus menempa personel sebagai manusia yang taat hukum.”

0 Komentar