Perjalanan panjang TNI di negeri dengan hiruk pikuk politik ini, mau tidak mau harus diakui, memang telah ‘mengotori’ fitrah atau jati diri TNI sebagai prajurit yang tugas pokoknya adalah bertempur. Berbagai tarik menarik kepentingan baik eksternal maupun internal telah membawa TNI pada wilayah yang ‘abu-abu’ dan mempengaruhi pola pikir, pola sikap serta pola tindak para prajuritnya. Sebagai akibatnya, TNI justru cenderung lebih asyik memasuki wilayah dan mengurusi banyak hal diluar domain tugas pokoknya. Akhirnya, karakter dan tuntutan-tuntutan sebagai militer profesional yang didukung dengan alutsista memadai pun semakin melemah.
Berbagai kecelakaan yang melibatkan alutsista TNI dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian materiil yang cukup besar menjadi salah satu refleksi dari kondisi tersebut. Demikian juga dengan masih belum hilangnya konflik antara prajurit TNI dengan Polri maupun masyarakat, keterlibatan prajurit dalam penyalahgunaan narkoba maupun penyalahgunaan wewenang unsur pimpinan dalam mengelola uang negara juga merupakan indikator yang sangat jelas dari semakin lemahnya jatidiri atau fitrah TNI.
Oleh karenanya, besar harapan masyarakat agar pergantian pucuk pimpinan TNI ini disikapi seperti hari raya Idul Fitri yang kebetulan waktunya hampir bersamaan, untuk kontemplasi dan introspeksi untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya kembali kepada fitrah TNI. Semoga para pimpinan TNI yang baru dapat membawa TNI untuk keluar sebagai pemenang dari berbagai ujian selama bulan yang suci ini, seperti umat Islam yang telah keluar sebagai pemenang ketika mampu melewati ujian selama sebulan menunaikan ibadah puasa dengan benar, dan akhirnya menjadi manusia yang bertakwa. (jay/pendam)
