Makna Hari Lebaran Bagi TNI

Makna Hari Lebaran Bagi TNI
0 Komentar

IDUL Fitri adalah hari raya umat Islam, hari kemenangan dan hari kesucian kembali lepas dari kekotoran-kekotoran yang melekat selama setahun yang lewat. Secara umum umat Islam memahami bahwa di hari tersebut setiap manusia yang telah lolos menjalani ujian selama bulan suci Ramadhan akan dikembalikan ke fitrah nya seperti bayi yang baru lahir.

Ibarat sebuah hard disk computer, manusia baru saja di format ulang agar program dan data yang tidak perlu dan bahkan mengganggu dapat hilang, dan kemudian bisa diisi kembali dengan data-data atau program yang baik dan lebih bermanfaat. Harapan untuk menjadi manusia yang fitri tinggal menunggu waktu, ibarat petani yang telah siap untuk panen.

Dalam waktu dua hari berturut-turut di penghujung bulang suci ini, terjadi pergantian jabatan yang sangat strategis dan paling berpengaruh di negeri ini, yaitu Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat. Pimpinan organisasi yang paling menentukan jalannya sejarah negeri sejak proklamasi kemerdekaan hampir 70 tahun yang lalu. Terlepas dari beberapa ‘riak kecil’ yang mengiringi proses pergantian ini, namun hal itu telah terjadi dan diterima oleh seluruh penduduk negeri. Pergantian pucuk pimpinan dua organisasi terpenting di negeri ini pada waktu yang hampir bersamaan dengan Idul Fitri ini merupakan momentum penting yang hendaknya disikapi dalam nuansa kontemplasi serta introspeksi diri oleh seluruh prajurit TNI.

Baca Juga:Selama Mudik Lebaran, 665 Nyawa MelayangNagreg Matot, Kendaraan Nyaris Tak Bergerak

Ibarat umat muslim yang hampir selesai mengikuti ujian selama satu bulan, TNI juga baru saja melewati beberapa ujian selama bulan Ramadhan tahun ini, mulai dari kecelakaan pesawat Hercules di Medan hingga perkelahian prajurit TNI-Polri di Semarang maupun Papua Barat dan beberapa konflik di Sulawesi Selatan. Hasil dari pelaksanaan ujian tersebut tentu saja akan dapat dilihat setelah hari raya Idul Fitri terlewati, apakah ada perubahan menjadi lebih baik ataukah sama saja dengan kemaren, bahkan lebih buruk.

Jika umat Islam mampu menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik setelah kembali dari perayaan Idul Fitri, maka dapat dikatakan bahwa umat Islam telah lulus dalam ujian. Demikian juga TNI, mampukah menjadi organisasi yang lebih baik atau lulus ujian setelah dilakukannya pergantian pucuk pimpinan? Terkait hal ini, kita berharap agar pergantian pucuk pimpinan TNI dan TNI AD menjelang hari raya Idul Fitri ini menjadi momentum untuk mengembalikan jati diri TNI kepada fitrahnya, layaknya umat Islam yang kembali menjadi seperti bayi yang baru lahir. TNI haruslah kembali kepada jati diri sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan profesional secara hakiki, bukan sekedar obsesi atau retorika basi.

0 Komentar