CIREBON – Pemerintah Desa Gembongan, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon resmi menelurkan kesepakatan baru terkait tradisi arak-arakan Idulfitri. Dalam musyawarah desa yang digelar di Balai Desa Gembongan pada Rabu (8/4/2026), disepakati bahwa kegiatan arak-arakan keliling akan resmi ditiadakan mulai tahun 2028 dan dialihkan ke masing-masing blok.
Musyawarah yang dihadiri oleh Pemdes, BPD, MUI, tokoh ulama, pengurus DKM Baiturrahim, hingga perwakilan pemuda ini bertujuan mencari titik tengah atas kegiatan pro-kontra yang dinilai mulai melenceng dari nilai-nilai keagamaan. MUI Desa Gembongan menegaskan bahwa budaya boleh saja berjalan selama tetap dalam koridor mubah dan tidak condong ke hal negatif.
Soroti Miras dan Volume Suara
Pandangan tajam datang dari pengurus DKM Baiturrahim dan para ustadz setempat. Pihak DKM menyayangkan momentum Idulfitri yang kerap ternoda oleh pesta minuman keras (miras) dan penggunaan volume sound system yang berlebihan.
Baca Juga:Jembatani Lulusan Sekolah ke Dunia Kerja, Pemprov Jabar Masifkan Sosialisasi Aplikasi "Nyari Gawe"Heboh 70 Ribu Motor Listrik untuk Operasional MBG, Banderolnya Bikin Terkejut!
“Ada kemaksiatan yang dipertontonkan di depan umum dan anak-anak. Kami tidak melarang hiburan, namun konsepnya harus dirubah agar tidak mencederai citra desa dan merusak generasi muda,” ujar Sukari, perwakilan DKM dalam forum tersebut.
Senada dengan hal itu, perwakilan tokoh masyarakat, M. Khoirul Anwar, pentingnya menjaga mobilitas sosial. Ia menunjuk agar hobi pemuda dilokalisir di satu titik agar tidak mengganggu fasilitas umum.
“Acara arak-arakan di desa gembongan bukan tradisi tapi rutinitas. Ada 3 poin yang seharusnya dipertimbangkan ketika akan mengadakan kegiatan arak-arakan yakni Citra Desa, Mobilitas Sosial, juga berdampak bagi gen-Z dan Alpha seperti yang dikeluhkan para ustad tadi,” tegasnya.
Wadah Pemersatu Pemuda
Samsul Bahri, salah satu tokoh masyarakat menjelaskan bahwa sejarah arak-arakan di Desa Gembongan sebenarnya lahir sebagai solusi untuk mendamaikan pernikahan antar-blok di masa lalu.
“Dulu setiap hari raya ada saja ikatan antar blok, maka waktu itu saya berinisiatif memikirkan bagaimana caranya agar kedua blok yang sering berseteru bisa bertemu dalam satu momen, Kegiatan ini adalah cara kami mempersatukan pemuda agar tidak ribut,” ungkap mantan perangkat Desa Gembongan tersebut.
