"Teteg lan Tutug": 5 Hal Menarik dari Refleksi 544 Tahun Perjalanan Kabupaten Cirebon

HUT kab. Cirebon 544
Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dedi Mulyadi, hadir dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Cirebon ke-544, Sumber (2/4/2026).
0 Komentar

CIREBON – Perayaan Hari Jadi Kabupaten Cirebon ke-544 pada tahun 2026 bukan sekadar seremoni tahunan yang diwarnai kemeriahan parade dan rintik hujan yang membawa simbol kesuburan. Di balik keriuhan di depan Kantor Bupati dan gedung DPRD, tersimpan narasi besar mengenai transformasi sebuah daerah yang telah melintasi lima abad sejarah. Sebagai seorang strategis kebudayaan, saya melihat momentum ini bukan sekadar perayaan usia, melainkan upaya sistematis dalam menyusun “DNA masa depan” Kabupaten Cirebon.

Menyeimbangkan warisan spiritual dari era Sunan Gunung Jati dengan tuntutan teknis pembangunan modern adalah tantangan yang kompleks. Namun, melalui visi yang dipaparkan dalam rangkaian acara tahun ini, Kabupaten Cirebon menegaskan bahwa pembangunan fisik yang megah tidak akan memiliki “jiwa” tanpa akar identitas yang kokoh.

Berikut adalah lima hal menarik yang merangkum esensi dari peringatan 544 tahun perjalanan Kabupaten Cirebon:

Baca Juga:Perkuat Identitas Budaya, Pemkab Cirebon Resmi Luncurkan Salam Khas "Kulanun–Mangga"KPK Geledah Rumah Ono Surono di Indramayu, Dua Koper dan Satu Kardus Disita

1. Filosofi “Teteg lan Tutug”: Integritas Birokrasi Melawan Proyek Mangkrak

Tema “Teteg lan Tutug” yang diusung tahun ini memiliki kedalaman makna yang melampaui sekadar slogan puitis. Secara strategis, pimpinan daerah menerjemahkan filosofi ini sebagai komitmen moral dalam tata kelola pemerintahan.

Teteg: Melambangkan keteguhan hati dan integritas. Ini adalah fondasi psikologis bagi para aparatur sipil dalam memegang prinsip pelayanan publik di tengah arus disrupsi.

Tutug: Berarti menyelesaikan setiap langkah hingga tuntas. Dalam konteks birokrasi, ini adalah jawaban atas kritik publik mengenai proyek-proyek yang berhenti di tengah jalan (mangkrak). Tutug adalah komitmen untuk memastikan bahwa setiap sen anggaran bertransformasi menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Tema ini adalah pengingat bagi eksekutif dan legislatif bahwa setiap kebijakan harus memiliki keteguhan prinsip (Teteg) dan harus diselesaikan secara tuntas (Tutug) demi kesejahteraan bersama. Ini adalah janji bahwa tidak akan ada janji yang digantung.” ungkap Sophi Zulfia, Ketua DPRD Kabupaten Cirebon dalam sidang paripurna.

2. Branding-Driven Infrastructure: Visi “Peradaban Gunung Jati”

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, menawarkan tesis ekonomi yang revolusioner: merawat kebudayaan jauh lebih menguntungkan daripada eksploitasi alam.

Beliau menekankan bahwa eksploitasi tambang (emas, pasir, atau batu) hanya melahirkan konflik sosial dan beban biaya pemulihan lingkungan yang tinggi. Sebaliknya, identitas budaya adalah sumber pendapatan abadi melalui sektor pariwisata dan perhotelan.

0 Komentar