CIREBON – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya mengubah paradigma pembangunan dengan menempatkan kebudayaan sebagai fondasi utama. Hal tersebut disampaikannya dalam pidato pada rapat paripurna istimewa peringatan Hari Jadi ke-544 Kabupaten Cirebon tahun 2026
Dedi mengkritik praktik pembangunan yang selama ini seringkali memisahkan antara kemajuan fisik dengan akar budaya daerah. Menurutnya, identitas kultural tidak boleh berhenti pada tataran simbolis saat upacara adat saja.
“Analisis kebijakan bicara Jawa Barat itu kita bicara tentang empat identitas kebudayaan yang dalam perspektif kepemimpinan kita selama ini itu hanya menjadi simbolistik seremoni pada acara-acara upacara, tapi tidak menjadi sistem nilai pembangunan yang membangun karakter, identitas, dan branding,” tegas Dedi Mulyadi di hadapan anggota DPRD dan tamu undangan.
Baca Juga:"Teteg lan Tutug": 5 Hal Menarik dari Refleksi 544 Tahun Perjalanan Kabupaten CirebonPerkuat Identitas Budaya, Pemkab Cirebon Resmi Luncurkan Salam Khas "Kulanun–Mangga"
Berikut adalah poin-poin penting transformasi pembangunan yang diusung oleh Gubernur Dedi Mulyadi:
• Pariwisata sebagai Ekonomi Berkelanjutan: Dedi membandingkan nilai ekonomi pariwisata berbasis budaya dengan eksploitasi sumber daya alam. Ia menilai pariwisata adalah investasi jangka panjang yang minim konflik.
“Keunggulan dari sebuah wisata adalah sesuatu dirawat selamanya menghasilkan uang yang terus-menerus. Tetapi aspek-aspek yang bersifat eksploitasi harus ada recovery dan kemudian melahirkan konflik yang berkepanjangan,” jelasnya.
• Empat Pilar Peradaban Jawa Barat:
Beliau memetakan Jawa Barat ke dalam empat kerangka peradaban yang harus diperkuat secara teknis: Sunda Kulon (Banten), Sunda Priangan (Mataram), Kecirebonan (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang), dan Betawi (Depok, Bekasi)
1. Rebranding Cirebon 2027: Mulai tahun 2027, Pemerintah Provinsi akan mendorong branding daerah secara masif. Cirebon menjadi prioritas karena memiliki aset budaya yang lengkap. “Keunggulan dari Cirebon adalah seluruh peninggalannya ada kasat mata nyata dan terlihat. Kita masih ada peninggalan kesultanan, bahasanya, tarinya, hingga makanannya,” kata Dedi.
2. Arsitektur dan Pendidikan: Dalam visinya, seluruh gedung kantor dan sekolah di wilayah ini harus dikembalikan ke arsitektur khas Kacirebonan sebagai identitas visual. Selain itu, pendidikan harus dikoneksikan dengan industrialisasi agar warga lokal mampu bersaing secara global.
3. Islam Pluralis Cirebon: Dedi memuji karakter keberagamaan masyarakat Cirebon yang harmonis dengan tradisi. “Identity Islam khas Cirebon adalah identite Islam pluralis. Islam dan kebudayaan di sini menjadi satu kesatuan, bukan dipertentangkan,” ungkapnya.
