CIREBON – Kabupaten Cirebon kini resmi memiliki identitas tutur baru yang merepresentasikan keramahan serta kearifan lokalnya. Bertepatan dengan momentum sakral peringatan Hari Jadi ke-544, Pemerintah Kabupaten Cirebon meluncurkan salam khas daerah bertajuk “Kulanun–Mangga”. Inovasi ini diproyeksikan menjadi simbol penguat karakter daerah di tengah kepungan arus modernisasi.
Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Shopi Zulfiah, menegaskan bahwa kehadiran salam ini merupakan terobosan yang membedakan peringatan hari jadi tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, selama ini Cirebon memang membutuhkan sebuah “brand” komunikasi yang autentik untuk mempertegas jati diri masyarakatnya di mata publik maupun wisatawan.
“Yang berbeda tahun ini adalah peluncuran salam khas Cirebon, yakni ‘Kulanun’ yang dijawab ‘Mangga’. Sebelumnya kita belum memiliki salam formal yang menjadi ciri khas daerah seperti ini,” ujar Shopi saat ditemui usai Rapat Paripurna Istimewa di Gedung DPRD Kabupaten Cirebon, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga:KPK Geledah Rumah Ono Surono di Indramayu, Dua Koper dan Satu Kardus DisitaCatat 29 Gempa Susulan di Ternate-Bitung, BMKG Bakal Pasang Alat Sensor Gempa
Shopi menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari pengamatan terhadap daerah-daerah lain yang telah sukses membangun citra melalui salam khas. Baginya, salam bukan sekadar susunan kata, melainkan instrumen budaya yang mampu menumbuhkan rasa bangga dan rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap tanah kelahirannya.
Dari Instansi hingga Industri Pariwisata
Pemerintah daerah tidak ingin salam “Kulanun–Mangga” hanya berhenti sebagai jargon seremonial dalam rapat pejabat. Shopi menekankan pentingnya internalisasi salam tersebut ke dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat, mulai dari lingkungan birokrasi, sektor pendidikan, hingga industri kreatif.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Cirebon berencana melakukan sosialisasi masif. Sektor pariwisata dan kuliner menjadi target utama agar wisatawan yang berkunjung dapat merasakan pengalaman budaya yang kental sejak pertama kali menginjakkan kaki di Cirebon.
“Harapan kami, penggunaan salam ini meluas hingga ke sektor pelayanan publik. Misalnya di restoran atau hotel, pengunjung disambut dengan ‘Kulanun’ dan dijawab ‘Mangga’. Jika ini menjadi kebiasaan, maka identitas Cirebon akan sangat kuat di mata pendatang,” tambahnya dengan optimistis.
