Ada sebuah paradoks yang menyayat hati dalam catatan BPS: “Pengangguran Terselubung.” Ini adalah sebuah metafora tentang hantu yang terlihat. Mereka secara administratif tercatat bekerja, namun produktivitas mereka layaknya mesin raksasa yang hanya digunakan untuk memotong selembar kertas.
Dengan definisi bekerja minimal satu jam per minggu, angka pengangguran yang terlihat sebesar 9 juta jiwa hanyalah puncak gunung es dari samudera keputusasaan yang jauh lebih dalam. Di balik angka-angka itu, ada sarjana teknik mesin yang kini memegang kemudi mobil rental, dan ahli ilmu komputer yang menatap layar CCTV sebagai satpam sembari mengirim lamaran software engineer yang tak kunjung bersambut.
Sektor informal kini menjadi sekoci darurat yang kelebihan muatan. Sebanyak 83,83 juta orang, atau hampir 60% penduduk bekerja, terpaksa “turun kelas”. Mereka melipat ijazah sarjana mereka rapat-rapat, menggantinya dengan apron pedagang, jaket pengemudi ojek, hingga sapu pramukantor.
Baca Juga:BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem 15-16 Maret, Wilayah Jawa dan NTT Siaga BanjirBus Pariwisata Ludes Terbakar di Tol Cipali KM 95, Lalu Lintas Arah Jakarta Sempat Tersendat
Badai pemutusan hubungan kerja dan anjloknya penciptaan lapangan kerja formal—dari 8,55 juta di periode sebelumnya menjadi hanya 2,01 juta—telah memaksa nalar sehat untuk berkompromi dengan perut yang lapar. Ini bukan lagi soal mengejar mimpi, melainkan soal menunda kekalahan.
Namun, kejutan pahit yang sebenarnya (the mind-blowing truth) bukanlah pada sulitnya mencari kerja, melainkan pada lotere kelahiran. Kalimat “Tunggu aku sukses nanti” sering kali menjadi mantra penenang, namun realitanya, tidak semua orang memiliki tiket untuk masuk ke arena yang sama.
Peluang 6,25% itu hanyalah ilusi matematis. Bagi mereka yang lahir di bawah garis kemiskinan, tanpa akses nutrisi dan pendidikan yang mumpuni sejak dini, peluang itu menyusut hingga mendekati nol. Sukses, dalam konteks ini, bukan lagi soal seberapa keras kau bekerja, melainkan seberapa beruntung kau dilahirkan.
Kita sedang menyaksikan sebuah generasi yang sedang merayakan “pemakaman” ambisinya demi sebuah kelangsungan hidup yang minimalis. Mereka bekerja di bawah bayang-bayang keahliannya sendiri, menjadi saksi bisu atas sistem yang tak mampu menampung ledakan kecerdasan mereka.
Jika ijazah adalah kunci namun pintunya telah diganti dengan dinding beton, apakah kita sedang mendidik generasi untuk menjadi ahli, atau hanya untuk menjadi penyintas yang beruntung?
