Lebih lanjut, Thomas menilai potensi perbedaan penetapan awal bulan Hijriah antara pemerintah dan Muhammadiyah kemungkinan akan semakin sering terjadi di masa mendatang. “Ya. Dan akan semakin sering terjadi perbedaan,” katanya ketika dikonfirmasi.
Ia menegaskan bahwa akar masalahnya bukan semata pada perbedaan metode hisab dan rukyat, melainkan lebih pada disparitas kriteria yang digunakan dalam menentukan visibilitas hilal. Muhammadiyah dengan KHGT-nya yang mulai diimplementasikan secara resmi sekitar 1447 H, menurut Thomas, berpotensi memperbesar frekuensi perbedaan, baik di awal Ramadan, Syawal, maupun Zulhijah.
Analisis lain menggunakan aplikasi Hisab Astronomis yang dikembangkan oleh Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam (Persis) juga menunjukkan bahwa potensi perbedaan Idul Fitri dapat terus terjadi hingga tahun 2029 atau 1450 Hijriah.
Baca Juga:Dokter Richard Lee Ditahan Polda Metro Jaya Terkait Produk KecantikanRuh dan Kematian di Era Teknologi: Sains Belum Mampu Ungkap Misterinya
Kendati demikian, dalam periode tersebut, awal Ramadan diprediksi masih akan jatuh pada tanggal yang sama antara pemerintah dan sebagian besar organisasi Islam di Indonesia. Selama kriteria yang dianut oleh pemerintah dan Muhammadiyah tidak mengalami sinkronisasi, potensi perbedaan di hari raya umat Islam ini pun dinilai akan terus berlangsung. (red)
