Pendekatan itu dinilai ampuh mengurangi tekanan batin yang dirasakannya, sekaligus membantu mengembalikan konsentrasi pada proses pengembangan motor dan adaptasi teknis.
Musim 2025 yang sulit itu memicu berbagai spekulasi soal kelanjutan karier Bagnaia di Ducati. Manajemen tim kabarnya tengah menyusun rencana jangka panjang menyambut regulasi baru 2027, yang menghadirkan perubahan mesin 850cc dan pembatasan aerodinamika.
Nama Bagnaia sempat dikaitkan dengan sejumlah tim pabrikan lain di tengah dinamika tersebut. Namun, hingga sekarang ia tetap berkomitmen untuk bertahan di level tertinggi dan hanya mempertimbangkan tim dengan status pabrikan penuh.
Baca Juga:Ahmadinejad Muncul ke Publik, Patahkan Spekulasi Kematian Akibat Serangan Udara AS-IsraelBuka Puasa di Istana: Prabowo dan Tokoh Islam Bedah Posisi Indonesia di Tengah Konflik Global
Dalam fase genting ini, peran Rossi dinilai sangat penting—bukan hanya sebagai mentor teknis, melainkan juga sebagai figur yang menjaga kestabilan mental anak didiknya.
Meskipun musim 2025 berjalan berat, Bagnaia masih menunjukkan secercah harapan lewat beberapa raihan podium di paruh akhir musim. Sejumlah kalangan meyakini bahwa dengan dukungan teknis yang optimal dan mentalitas yang pulih, ia bisa kembali menjadi penantang gelar juara.
Campur tangan langsung Valentino Rossi dalam masa-masa sulit ini membuktikan betapa eratnya hubungan di antara mereka. Saat topan badai performan dan tekanan menerpa garasi Ducati, sang legenda memilih untuk turun tangan—demi memastikan karier muridnya tak kandas di tengah jalan.
Musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya: apakah sentuhan sang mentor mampu menjadi titik balik kebangkitan Francesco Bagnaia. (red)
