SEBUAH unggahan bergambar yang beredar di media sosial menampilkan daftar negara yang disebut sebagai “Safest Countries If World War III Starts” atau negara paling aman jika Perang Dunia III dimulai. Dalam daftar tersebut, Indonesia menempati posisi keempat.Daftar itu mencantumkan sejumlah negara seperti Fiji di peringkat pertama, disusul Tuvalu, Selandia Baru, Indonesia, Islandia, Argentina, Chile, Swiss, Bhutan, Antartika, Afrika Selatan, hingga Greenland.
Namun demikian, daftar tersebut tidak mencantumkan sumber resmi maupun lembaga internasional yang melakukan kajian ilmiah terkait pemeringkatan tersebut.
Pengamat hubungan internasional menyebut, hingga saat ini tidak ada lembaga global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Global Peace Index, maupun lembaga riset pertahanan yang secara resmi merilis daftar negara paling aman jika terjadi Perang Dunia III. Pasalnya, Perang Dunia III sendiri masih bersifat hipotesis dan belum terjadi.
Baca Juga:Belum Dijual di RI, Honda ZR-V Diproduksi Sejak 2023 dan Dibanderol hingga Rp800 JutaanMenu MBG Boleh Diposting, Kepala BGN Tegaskan Tak Ada Larangan Unggah di Medsos
Secara umum, negara-negara yang kerap disebut “aman” dalam berbagai analisis spekulatif biasanya memiliki beberapa karakteristik, seperti letak geografis yang terpencil, tidak memiliki pangkalan militer besar negara adidaya, menganut politik netral, serta tidak terlibat dalam aliansi militer global.
Indonesia sendiri dikenal dengan politik luar negeri bebas aktif dan tidak tergabung dalam pakta pertahanan seperti NATO. Di sisi lain, Indonesia memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan internasional serta berada di kawasan Indo-Pasifik yang memiliki dinamika geopolitik tinggi.
Karena itu, klaim bahwa suatu negara pasti aman dalam skenario perang global tidak dapat dipastikan secara mutlak. Faktor keamanan dalam konflik berskala dunia sangat bergantung pada perkembangan politik, militer, dan ekonomi global yang bersifat dinamis.Masyarakat diimbau untuk bijak menyikapi informasi yang beredar di media sosial serta memastikan sumber dan validitas data sebelum mempercayainya sebagai fakta. (red)
