Dampaknya langsung terasa di pasar. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 12.55 WIB, kontrak Brent crude melonjak ke level US$80,32 per barel, naik lebih dari 3 persen dibanding penutupan sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat di kisaran US$72,41 per barel. Dalam tiga sesi perdagangan terakhir, Brent menguat hampir 10 persen, bahkan sempat menyentuh level di atas US$82 per barel, tertinggi sejak awal 2025.
Kenaikan signifikan tersebut meningkatkan premi risiko di pasar energi global. Jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap Harga BBM non-subsidi di Indonesia berpotensi semakin besar. Meski demikian, pemerintah memastikan Harga BBM subsidi tetap aman untuk sementara waktu. Publik kini menanti langkah lanjutan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi di tengah ketidakpastian global. (red)
