Sambil tertawa getir, ia mempertanyakan apakah komposisi tersebut benar-benar memenuhi standar makan bergizi bagi anak sekolah.Video dan komentar seperti ini kemudian memicu diskusi lebih luas di media sosial, terutama di kalangan warga Cirebon.
Antara Anggaran dan Isi Piring
Di sinilah publik mulai membandingkan angka-angka yang beredar.Di satu sisi, pemerintah mengalokasikan dana operasional yang cukup besar untuk setiap dapur layanan gizi. Di sisi lain, beberapa contoh menu yang beredar di media sosial terlihat sederhana, bahkan dinilai terlalu minimal oleh sebagian warga.
Perbandingan harga bahan makanan di pasar lokal pun mulai dibicarakan. Warga mencoba menghitung sendiri apakah nilai makanan yang diterima sesuai dengan anggaran yang disebut-sebut dalam program.
Baca Juga:Wagub Erwan Ajak Pengusaha Besar dan Menengah Jadi Mentor UMKM Jabar200 Pejabat Pemkab Cirebon Dilantik, Bupati Imron Lakukan Penyegaran Besar-Besaran
Kesenjangan persepsi ini perlahan memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah masalahnya berada pada distribusi, pengelolaan di tingkat lokal, atau pengawasan program.
Program Besar, Ujian Pengawasan
Program makan bergizi sejatinya memiliki tujuan mulia—memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup agar tumbuh sehat dan produktif.Namun program berskala nasional seperti ini juga menghadapi tantangan besar: memastikan standar yang sama dapat diterapkan di ribuan titik layanan.
Tanpa pengawasan ketat, skema kemitraan yang mempercepat pembangunan justru berisiko membuka celah baru dalam implementasi.Bagi masyarakat di daerah seperti Cirebon Timur, ukuran keberhasilan program bukanlah angka ribuan dapur layanan atau besarnya anggaran.Yang mereka lihat sederhana: apa yang benar-benar ada di piring anak mereka setiap hari. (rif)
