DI balik hiruk-pikuk dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Palembang—tempat ribuan porsi makanan disiapkan setiap hari—tersimpan kisah kelam yang berakhir pada hilangnya nyawa seorang perempuan paruh baya.
Bukan karena kecelakaan, bukan pula karena sakit, melainkan karena emosi sesaat yang berubah menjadi tindakan fatal.
Wulandari (50), seorang tukang cuci ompreng di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Plaju, tak pernah pulang sejak Kamis, 22 Januari 2026. Lima hari kemudian, jasadnya ditemukan tergeletak sunyi di semak-semak bekas kebun nanas di Desa Gaung Asam, Kecamatan Belida, Kabupaten Muara Enim.
Baca Juga:Kantong Kering? Ini Tips Jitu Kelola StresTimnas Futsal Indonesia Gasak Korea Selatan 5-0, Pelatih Minta Ini untuk Laga Selanjutnya
Tak berselang lama, pelaku pembunuhan yang tak lain adalah rekan kerjanya sendiri, Andi (38), akhirnya menyerahkan diri.
Pengakuan dari Balik Rasa Tidak Tenang
Selasa pagi, 27 Januari 2026, Andi mendatangi rumah salah satu anggota polisi. Wajahnya pucat, suaranya bergetar. Ia mengaku tak lagi mampu menahan beban batin sejak kejadian tersebut.
“Tidak tenang rasanya. Saya tanggung sendiri risikonya,” ucap Andi, seperti ditirukan aparat kepolisian.
Andi kemudian dibawa ke Polsek Ilir Barat I, Palembang. Kepada penyidik, ia mengakui bahwa dialah yang menghabisi nyawa Wulandari.
Kapolsek Ilir Barat I, Komisaris Fauzi Saleh, membenarkan pengakuan tersebut. Andi diketahui bekerja sebagai office boy di SPPG Plaju—lokasi yang sama dengan korban mencari nafkah.
Perjalanan Singkat yang Berujung Petaka
Menurut keterangan polisi, tragedi bermula dari perjalanan singkat. Andi hendak menuju Desa Gaung Asam untuk mengembalikan terpal pinjaman. Namun, Wulandari memaksa ikut dan meminta dibonceng menggunakan sepeda motor Andi.
Di tengah perjalanan, ketegangan muncul. Fauzi mengungkapkan, Andi merasa terusik karena korban kerap memegang tubuhnya dari belakang.
Baca Juga:Tak Bisa Lagi Sembarangan, Kartu Perdana Kini Wajib Verifikasi WajahDana Desa 2026 di Cirebon Melorot, Dari Miliaran Kini Hanya Rp 300 Jutaan
“Tersangka mengaku sudah berkeluarga dan merasa sangat terganggu. Emosinya memuncak,” jelas Fauzi.
Motor dihentikan. Dalam hitungan menit, emosi menguasai nalar. Andi menjegal korban, lalu mencekik leher Wulandari menggunakan jilbab yang dikenakannya sendiri.
Di lokasi sepi itu, nyawa Wulandari melayang.
Jasad Ditinggalkan, Motor Dibawa Pergi
Setelah memastikan korban tak bernyawa, Andi menyeret jasad Wulandari ke semak-semak bekas kebun nanas. Ia lalu membawa sepeda motor milik korban hingga ke wilayah Lembak, Kabupaten Muara Enim, sebelum akhirnya ditinggalkan.
