Emas, Aset Tua yang Kembali Dicari di Zaman Digital

Invest emas
Ilustrasi logam mulia
0 Komentar

EMAS kembali menempati panggung utama dalam peta investasi global. Di tengah ketidakpastian geopolitik, inflasi yang belum sepenuhnya jinak, serta volatilitas pasar keuangan, logam mulia ini kembali dipandang sebagai safe haven—aset pelindung nilai yang paling tua dan paling dipercaya sepanjang sejarah.

Namun di balik reputasinya yang solid, pertanyaan besar muncul: apakah harga emas akan terus naik, atau justru berpeluang turun? Dan mengapa sebagian investor mulai mengalihkan dana dari kripto ke emas?

Emas: Aset Tua yang Tetap Relevan

Secara historis, emas selalu menjadi pelindung nilai ketika: inflasi meningkat, mata uang melemah, konflik geopolitik memanas, atau pasar saham mengalami tekanan.

Baca Juga:Pencarian Korban Longsor KBB Berlanjut, 53 Kantong Jenazah Telah DievakuasiElon Musk: Dari Anak Pendiam Afrika Selatan hingga Penentu Arah Teknologi Dunia

Bank sentral dunia pun terus menambah cadangan emasnya. Data beberapa tahun terakhir menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral berada di level tertinggi sejak dekade 1960-an. Ini menegaskan satu fakta penting: emas masih dianggap aset strategis jangka panjang, bukan sekadar komoditas spekulatif.

Apakah Harga Emas Bisa Turun? Jawabannya: Bisa

Meski citranya kuat, harga emas tidak kebal koreksi. Secara faktual, ada beberapa faktor utama yang dapat menekan harga emas ke bawah:

1. Kenaikan Suku Bunga Global

Emas tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika bank sentral—terutama The Fed—menaikkan suku bunga, investor cenderung beralih ke instrumen berbunga seperti obligasi. Hal ini secara langsung mengurangi daya tarik emas.

2. Penguatan Dolar AS

Harga emas global dipatok dalam dolar AS. Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan menurun dan harga berpotensi terkoreksi.

3. Meredanya Ketegangan Geopolitik

Emas sering naik karena sentimen ketakutan (fear-driven asset). Jika konflik global mereda dan stabilitas politik membaik, investor cenderung kembali ke aset berisiko seperti saham.

4. Aksi Ambil Untung

Setelah reli panjang, koreksi harga emas sering kali terjadi akibat profit taking. Ini bersifat teknikal dan wajar dalam siklus pasar.

Dari Kripto ke Emas: Pergeseran yang Nyata

Fakta lain yang menarik adalah peralihan sebagian dana dari kripto ke emas. Fenomena ini bukan asumsi, melainkan tercermin dari beberapa indikator:

0 Komentar